Tidak Ada Pangkat Dalam Dakwah

BTM3 Unimed – Ibnu Ishaq berkata, Az zuhri bercerita kepadaku bahwa Rasulullah saw datang ke Bani Amir bin Sha’sha’ah mengajak mereka kepada Islam dan menjelaskan kenabiannya kepada mereka. Seorang bernama Bahirah bin Faras berkata, “Demi Allah, jika aku ambil pemuda ini dari Quraisy, niscaya orang-orang Arab akan memperebutkannya. Bagaimana pendapatmu seandainya aku mengikuti ajakanmu, kemudian Allah memenangkanmu dari orang-orang yang memusuhi kamu. Adakah bagian kami setelah itu?”

“Bagian itu hak Allah, Ia berikan kepada siapa yang dikehendaki.”

“Akankah kami menyerahkan leher kepada orang Arab, padahal Allah memenangkanmu hasilnya milik orang lain. Kami tidak perlu lagi kepadamu!” katanya.

Maka Rasulpun meninggalkan mereka karena tidak ingin menerima ke-Islaman bersyarat dari orang-orang Bani Amir bn Sha’sha’ah.

Demikianlah selayaknya disadari oleh setiap orang yang ingin berkomitmen terhadap jamaah yang menyeru kepada Allah. Tidak mengharapkan darinya jabatan atau imbalan dunia karena da’wah ini untuk Allah. Segala urusan adalah kepunyaan Allah yang dibeikan semau-Nya.

Orang yang terlibat dalam problematika da’wah harus mengawali dengan pengharapan kepada ridha Allah, bekerja demi mengangkat panji-Nya. Namun, jika jabatan yang menjadi idamannya, inilah indikasi bahaya yang bersumber dari kebusukan niatnya. Untuk itulah Yahya bin Mu’adz berkata, ”Tidak akan beruntung siapa yang tercium darinya aroma ambisi kepemimpinan.”

Yusuf Meminta Jabatan

Dalam Islam, jabatan bukannya diminta kecuali jika terjadi krisis dalam hal potensi kepemimpinan atau umat dalam bahaya disebabkan adanya upaya makar dari orang-orang fasiq yang berambisi merebut tampuk kepemimpinan. Saat itu selayaknya diminta oleh mereka yang merasa memiliki kemampuan. Bukan semata-mata karena nafsu kekuasaan, melainkan agar tidak diduduki oleh orang-orang yang bermoral rendah serta rusak.

Dalam hal ini kasus Nabi Yusuf Alaihissalam adalah sebaik-baik contohnya. Ketika ia melihat tidak adanya orang yang berpotensi dari dirinya. Ia berkata kepada raja,

”Berkata Yusuf, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”(QS. Yusuf: 55).

Hal itu ia ugkapkan setelah raja menawarkan kedudukan kepadanya. Dan raja berkata, “Bawalah Yusuf kepadaku agar aku memilih dia sebagai orang yang dekat kepadaku.” Maka tatkala raja bercakap-cakap dengannya, ia berkata:

Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seseorang yang berkedudukan tinggi lagi dapat dipercaya pada sisi kami.” (Yusuf: 54).

Sayyid Quthb berkata, “Sungguh ia tidak sujud sebagai rasa terima kasih sebagaimana sujudnya orang-orang penjilat para thaghut, ia tidak berkata kepadanya, Akuhidup wahai Paduka, sebagai hambamu yang tunduk atau pembantumu yang terpercaya, sebagaimana kata para penjilat itu. Bukan! Ia meminta karena yakin mampu menanggung segala prahara pada masa itu. Ia telah meramalkan mimpi raja, itu lebih baik daripada diduduki orang lain di negeri itu. Karena dengannya ia yakin akan mampu menyelamatkan sekian jiwa dari ancaman maut, menjaga negara dari keruntuhan dan menyelamatkan rakyat dari krisis kelaparan. (Fi Dzilalil Qur’an, Sayyid Quthb 4/2005).

Orang-orang yang turut mendorong laju kereta da’wah, tidak mengharap kepemimpinan atau kedudukan, tidak memuaskan dirinya sejak semula, ketika ia mulai menapakkan kakinya ke pintu da’wah sebagai prajurit. Kalau di barisan belakang tempatnya tetaplah di belakang, kalau di depan tetaplah di sana, tidak menggantungkan tujuan lain kecuali ridha Allah. Ketidakserasian dalam da’wah terjadi manakala ia telah menoleh kepada selain Allah dan nafsu membisikinya atas nama menuntut hak-hak.

Rasulullah menjadikan masalah ini terang bagai matahari ketika orang-orang berbaiat kepadanya pada baiat yang pertama dan kedua dengan sabdanya, ”Jika kalian penuhi (baiat ini) maka bagi kalian adalah surga.”(Sahih Bukhari 1/54-58)

Beliau tidak menjanjikan bagi mereka kedudukan, harta atau atribut duniawi lainnya. Beliau mengkaitkan dengan masalah akhirat hingga melambunglah jiwa dan harapan mereka dari lumpur dunia ke langit yang paling tinggi. Rasulullah memuji tipe da’i seperti ini, yang tiada berharap kecuali ridh a Allah Ta’ala dan pada gilirannya tidaklah terlalu penting baginya posisi tugasnya, di garis depan atau belakang. Rasulullah bersabda, ”Alangkah bagusnya seorang hamba yang memegang kendali kudanya di jalan Allah, rambutnya kusut, kakinya berdebu. Jika mendapat tugas berjaga ia berjaga. Jika tugasnya di barisan belakang tetap di belakang dan jika di depan tetap di depan… (Dikeluarkan oleh Bukhari, Fathul Bari 2887(ini adalah sebagian hadits)).

Ibnul Jauzi berkata, “Artinya ia tidaklah disebut-sebut, tidak menginginkan ketinggian. Jika diberi tugas untuk berjalan, ia berjalan, seakan Rasulullah berkata. “Jika berjaga malam (hirasah) terus menerus berjaga dan jaga bertugas di barisan belakang senantiasa di sana.”

Ibnu Hajar berkata, “Pada hadits itu terdapat anjuran untuk membuang kecintaan terhadap riyasah (ambisi kepemimpinan) dan popularitas, serta keutamaan ketidakterkenalan dan tawadhu.”

Tipe da’i seperti itulah yang membuat suksesnya da’wah. Adapun para pemuja ambisi kepemimpinan, jabatan dan ketenaran, merekalah yang bakal menjadi batu-batu sandungan terhadap suksesnya Harakah Islamiyah. []

___
By : zaf
Sumber : Kitab Rambu-Rambu Tarbiyah Dalam Sirah Nabawiyah, Abdul Hamid jasim Al Bilaly

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: