THE POWER OF LOVE

THE POWER OF LOVE*

 

a_039.gif

            Biru, putih, hijau…. Satu per satu baju-baju keluar dari bungkusan yang hampir satu tahun aku museumkan, tepatnya beberapa bulan sebelum tamat SMA. Baju-baju dan jillbab panjang yang aku kenakan semenjak kelas I SMA karena dia. Ah… memandang satu per satu baju-baju dihadapanku ini seolah mengembalikan aku ke masa laluku, dimana aku pernah memakai semua baju, rok dan jilbab yang saat ini ada dihadapanku. Ihsan… karena dialah semua ini kulakukan. Ihsan teman satu kelasku yang aktif di rohis semenjak kelas I SMA dan menjadi ketua rohis ketika kelas II. Walaupun dia  bukankah laki-laki yang banyak diimpikan saat itu, tapi aku tahu… aku menyimpan perasaan merah jambu untuknya meski tak pernah aku ungkapkan. Bahkan sampai waktu memisahkan kami.

            Ihsan, berasal dari keluarga yang kental dengan agama. Ibu dan ayahnya adalah orang yang terkenal karena ketaatannya beragama, kakak-kakaknya juga aktif di kegiatan-kegiatan Islami baik di lingkungan kami tinggal -yang kebetulan sama- maupun kegiatan-kegiatan Islami di kampus mereka masing-masing.

            Aku mengenal Ihsan sejak kecil, bahkan kami berasal dari SD dan SMP yang sama. Dan mungkin inilah yang menyebabkan perasaan-perasaan lebih dari sekedar simpati itu muncul. Meski ia hanya menanggapku teman dan tak lebih dari itu. Tapi, kedekatan ini menjadikan aku berharap lebih padanya.

            “Kamu gila ya Na… suka sama laki-laki seperti Ihsan,” ledek Tia teman baikku yang juga merupakan sepupunya Ihsan.

            “Dia tuh nggak mungkin mau pacaran ama orang seperti kita. Nongkrongnya aja di masjid, ya pastilah dia juga cari cewek yang hobinya di masjid,” tambah Tia. Ketika itu kami baru pulang sekolah.

            “Maksud kamu cewek berjilbab seperti anak rohis di sekolah kita?” Aku memastikan. Tia hanya menjawab dengan anggukan pasti.

            “Jadi gimana dong, Ti?” Aku meminta pendapat Tia, terlihat ia sedang memegang keningnya dengan jari telunjuknya seolah-olah sedang berpikir keras.

            Suasana hening, Tia masih terlihat seperti orang yang berfikir keras ketika ide itu muncul di otakku. Ide untuk menggunakan baju, jilbab dan rok panjang, seperti yang biasa disebut jilbaber. Tersenyum, kutarik tangan Tia.

            “Kita mau kemana Na?” Tanya Tia dengan mengernyitkan keningnya sehingga alis matanya bertemu dan menatapku dengan mulut terbuka.

            “Udah… tenang aja. Nanti kamu juga tau,” kusetop angkot yang akan mengantar kami ke tempat dimana baju-baju itu akan kudapatkan.

            “Nggak salah ni Na?” Komentar Tia saat tau kemana aku mengajak dia. Aku hanya tersenyum.

           “Kan kamu yang bilang Ti, kalau Ihsan suka sama cewek yang memakai pakaian seperti ini,” aku menanggapi komentar Tia. Kulihat Tia hanya mengangkat bahu tak berkomentar lagi.

***

           Esoknya, satu per satu kucoba jilbab dan baju yang kemarin kami beli. Meskipun agak susah, akhirnya kerudung putih itu menempel manis menutupi rambutku yang dulu sering kubentuk dengan berbagai gaya ketika hendak pergi ke sekolah.

           “Mudah-mudahan Ihsan menyukaiku dengan penampilan seperti ini,” do’aku dalam hati sambil tersenyum melihat betapa manisnya diriku di kaca, sebelum berangkat sekolah. Semenjak saat itu, aku selalu berusaha untuk mendekati anak-anak rohis dan aku jadi lebih sering nongkrong di masjid atau mushalla sekolah, meski sebenarnya hatiku tidak berada di sana. Aku masih ingat bagaimana komentar Ihsan saat melihat penampilan baruku. Saat itu, aku dan Tia sengaja menunggunya di gerbang sekolah. Tiba-tiba dia muncul dan aku langsung menegurnya.

          “Kamu terlihat lebih anggun, Na… dengan pakaian seperti itu,” jawabnya saat aku tanya bagaimana komentarnya tentang penampilan baruku. Meski tidak mengatakan aku cantik atau manis, tapi komentar itu sudah cukup membuat aku berbunga-bunga. Tak hanya Ihsan, cewek-cewek mushalla yang satu kelas dengankupun banyak yang memujiku. Orang tuaku tak ada komentar apa-apa. Jangankan mengomentari penampilan baruku, untuk sekedar makan saja mereka jarang di rumah. Tapi itu bukan masalah besar bagiku, asalkan mereka tidak menghalangi kebebasanku.

***

          Setelah kelas II, aku diangkat menjadi pengurus rohis, artinya aku akan lebih sering berinteraksi dengan Ihsan. Kadang-kadang ada perasaan bersalah dalam hatiku, karena sudah membohongi banyak orang tentang keberadaanku di rohis. Jujur saja, aku tak pernah tertarik dengan jabatan seperti ini apalagi menjadi sekretaris di rohis yang diketuai Ihsan.

         Harapanku kalau Ihsan akan menyukaiku dengan pakaian seperti ini belum terwujud. Ia memang menyukai penampilan baruku, tapi hanya sebatas perubahanku yang menurutnya ke arah yang lebih baik. Hhh… apa yang kupikirkan selama ini kalau ia akan ‘menembakku’ dan memintaku jadi pacarnya hanya sekedar harapan. Malah sebaliknya, aku merasa ia semakin menghindariku, menolak saat aku ajak pulang bersama, bahkan tak mau menatap wajahku saat aku berbicara dengannya.

         “Aku tak boleh menyerah. Masih ada waktu sebelum tamat.” Batinku berbicara ketika aku merasa bahwa waktuku hanya tinggal sedikit lagi.

          Ku masih berharap suatu saat aku bisa mengisi rongga hati Ihsan dan menjadikanku kekasih. Seperti malam yang menjadikan bulan kekasih atau siang yang menjadikan matahari teman sejati.

         “Na… sebaiknya kamu tidak terlalu berharap banyak pada Ihsan,” Tia memberi masukkan ke aku, saat aku benar-benar menangis mengeluarkan semua yang berkecamuk dalam hatiku ke Tia, yakni tentang merah jambu yang hampir menutupi seluruh permukaan hatiku. Bahkan pikirankupun hanya berisi lukisan-lukisan merah jambu.

          “Aku tahu Na, memang tidak mudah  untuk lari dari bayang-bayang orang yang kita cintai, tapi bagaimanapun juga kita tidak bisa memaksa orang lain untuk mencintai kita,” Tia memberiku nasihat, sambil mengelus-elus punggungku. Ketika itu, aku memeluknya sambil mengeluarkan air mata yang sudah tidak terbendung lagi. Aku tidak menanggapi ucapan Tia, meski di dalam hati aku mengiyakannya.

          “Lagi pula sebentar lagi kita tamat, Na…. Yang aku dengar dari tanteku, mamanya Ihsan, setamat SMA Ihsan akan dikuliahkan di Mesir,” ucap Tia pelan.

         “Orang tuaku juga mampu menyekolahkan aku ke Mesir, Ti…” jawabku membela diri.

        “Tapi Na,itu tak ada gunanya. Akan sia-sia kamu kuliah ke Mesir hanya untuk mengejar Ihsan. Terlalu berlebihan, Na! Mengejar cinta sampai ke Mesir sana,” Tia tidak setuju dengan ucapanku. Aku hanya diam, dalam hati aku menyalahkan kenekatanku, aku terlalu ambisius.

       “Oh ya Ti, kamu kan sering ke rumahnya Ihsan, berarti Ihsan sering cerita ke kamu, apa ia sudah punya pacar?” Aku bertanya pada Tia, mengalihkan pembicaraan.

      “Nggak Na, kalaupun aku sering main ke sana, paling aku hanya ngobrol dengan mamanya Ihsan,” ucap Tia. Gambaran kekesalah sudah tidak tampak lagi di wajahnya.

       “Yup… aku punya ide Ti!” Ucapku sambil menunjuk keningku, tiba-tiba saja ada ide baru dibenakku.

      “Kamu mau bantu aku PDKT ama tantemu kan?” Sesaat terlihat Tia berpikir keras.

     “Aduh,  gimana ya Na…. Bukannya aku tidak mau bantu. Tapi…,” Tia seolah-olah menyembunyikan sesuatu dariku. 

     “Tapi kenapa,Ti?” Aku mendesak Tia.

     “Hmm… Na, sebenarnya…,” Tia terlihat gugup.

     “Kok jadi gitu sih Ti, bicara aja! Kamu tau kan, aku suka orang yang blak-blakan ke aku,”

     “Na… aku minta maaf ya, sebenarnya aku  udah pernah cerita mengenai kamu ke mamanya Ihsan,” Tia menggantung kalimatnya. Meski terekejut, aku mencoba menahan diri sampai Tia selesai cerita.

      “Mamanya Ihsan kurang setuju dengan kamu, Na!” Ucap Tia pelan, seolah-olah berbisik. Takut kalau aku tersinggung.

       Aku hanya terdiam tidak menanggapi cerita Tia. Aku tahu kenapa mamanya Ihsan tidak menyukaiku, walaupun hanya terkaanku saja. Pasti karena keadaan keluargaku yang terlalu bebas, tidak seperti keluarganya Ihsan yang baik, alim dan disegani orang. Hatiku mulai menyalahkan papa dan mama yang tidak seperti papa dan mamanya Ihsan. Mereka tak punya waktu untuk sekedar menanyakan kabar kami, mereka tak pernah mengontrol kami, bahkan sampai mas Andi -kakak semata wayangku- meninggal dunia karena over dosis.

      “Na…,” Tia menepuk pundakku. Aku meresa mataku panas, terasa air bening mengaliri kedua pipiku.

      “Aku minta maaf ya, Na…,” Tia meraih tanganku. Aku hanya tersenyum paksa dan pamit meninggalkan Tia.

***a_004.gif

       Semenjak itu, aku berusaha melupakan Ihsan dari hatiku. Menghilangkan sisa-sisa merah jambu tentang dirinya, bahkan segala yang mengingatkan aku padanya. Mushalla, kegiatan-kegiatan Islami, termasuk baju, rok dan jilbab panjang yang selama ini aku pakai hanya untuknya, bukan dari hati nuraniku. Aku kembali seperti Naisha Arman yang dulu.

       Aku tak peduli banyak desas-desus tentang perubahan mendadak yang kulakuan. Apalagi, sindiran-sindiran tentang jabatanku di rohis dulu. Dah Ihsan… dia terlihat biasa-biasa saja seperti tidak mempermasalahkan perubahan yang terjadi padaku, tak ada komentar yang keluar dari lisannya. ‘Mungkin… ia sudah tahu yang sebenarnya’, batiku coba menerka. Untungnya hal itu terjadi hanya sebentar, karena beberrapa bulan setelah itu, kai tamat. Seperti yang dikatakan Tia, Ihsan kuliah di Mesir. Dan aku sendiri… aku mengikuti SPMB dan diterima di Universitas Negeri Medan, di jurusan matematika.

***

        Semester kedua, di mata kuliah Al-Islam, kami diwajibkan untuk mengikuti Mentoring Agama Islam. Persis seperti yang aku ikuti semasa SMA dulu. Bedanya, dulu aku melakukannya karena Ihsan, sehingga setiap materi yang disampaikan tidak ada yang masuk di otakku.

         Tapi sekarang, aku melakukannya bukan karena siapa-siapa. Meski awalnya aku tidak suka, karena kegiatan ini mengingatkanku pada masa laluku. Tapi, aku tidak bisa memungkiri hatiku. Keputusan yang kubuat sekarangpun adalah satu keputusan yang kudapat dari pengajian kecil ini. Keputusan untuk memakai kembali baju, rok, dan jilbab panjang yang sudah hampir satu tahun aku museumkan. Tak seperti dulu, saat ini aku melakukannya hanya untuk mengharapkan ridho-Nya. Karena dia yang kuharapkan mau menjadikanku bulan untuk malamnya atau     matahari  untuk siangnya hanyalah sebuah mimpi. Aku juga punya alasan lain kenapa ini kubuat. Karena kekuatan cinta-Nya yang menarikku untuk memenuhi kewajibanku kepada-Nya. Demi segala cinta-Nya… Sang Pecinta Abadi….

***

           Semenjak itu aku memulai kehidupan baruku yang penuh dengan kebahagiaan, penuh dengan cinta. Cinta yang tak hanya ada dalam hati dan tak pula hanya terucap di bibir. Melainkan cinta yang berasal dari hati nurani ini yang akan kupersembahkan untuk-Nya, diaflikasikan dalam hidup… dalam semua ucapan dan tingkah lakuku, sebagai seorang kekasih. Karena aku ingin menjadi hamba yang hanya mempersembahkan diri dan hidup hanya untuk yang dicintai, yaitu Sang Pecinta Abadi, yang memiliki cinta di atas segala cinta.

         Seperti kisah yang sering kudengar dalam pengajianku yang kerap membuat aku menunduk karena malu. Tentang Rabiah Al Adawiah yang dengan senang hati meninggalkan semua kenikmatan duniawi yang telah lama digelutinya. Tentang Bilal bin Rabbah yang karena cintanya pada Sang Khalik, rala dijemur di bawah teriknya sinar matahari sedang batu besar di atas dadanya. Ada pula Umar bin Khattab yang memiliki hati yang keras, namun karena cintanya pada Ilahi menjadikannya seorang yang lemah lembut namun tetap berwibawa. Tak ketinggalan, tentang Sumayyah yang merelakan keluarganya dibunuh dan dirinya juga dibunuh dengan sadis, yakni tombak menghujam tubuhya dari bawah sampai ke atas. Mereka benar-benar rela mengorbankan harta, jiwa dan raga hanya untuk-Nya. Sementara aku?

         Ah… aku yakin karena kekuatan cinta-Nya pulalah aku kembali kepada-Nya. Aku berharap semoga aku dapat menjaga  memanfaatkan hidayah yang diberikan-Nya kepadaku, sampai akhir hayatku….

Salsabila, 20 Maret 2007

 

*Cerpen ini adalah pemenang Sayembara Corat-coret 2007

 yang diadakan Asy-Syfa’ bersama BTM3 cabang FBS

2 Tanggapan

  1. Assalamu ‘alaikum….*~*
    Subhanallah..i’m so interest for ur writing, coz make me thinks about my self. Ur short story contents a lot of lessons!! Allah is our TRUE LOVE.
    I wanna say to u, keep ur ability in writing. Dakwah needs the member like u!!
    “We can change the communities in the world by the writing”
    ALLOHU AKBAR!!!!!!!!!!!

    e mail: azzahra_200387@yahoo.com

  2. Ass..

    I’m proud of you..
    keep writing…
    keep dakwah…

    e mail: wida_azahra@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: