Visi Indonesia Madani (bagian-1)

Tinjauan Histori Hari Kemerdekaan

Arya Sandhiyudha

Penulis Buku “Renovasi Da’wah Kampus dan Indonesia”. (KAF Publishing 2007)

Aktif sebagai Ketua Yayasan Reviva Indonesia (RI)

Cita-cita Luhur

Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada hari Jumat 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364H. Artinya, pada pekan kedua Ramadhan ini kita akan bersua lekat dengan hari, tanggal, dan bulan yang sama dengan 64 tahun yang lalu dalam hitungan qomariyah (64 tahun). Satu momentum yang sepatutnya mengingatkan kembali tentang fundamen moril dibalik kemerdekaan bangsa ini.

Bung Karno, dalam wawancaranya dengan Cindy Adam (US) menyatakan argumentasi yang sangat relijius. Bung Karno saat itu mengaku memilih tanggal tujuh belas dipengaruhi oleh kewajiban shalat yang dijalankan oleh setipa muslim sebanyak 17 rakaat dalam setiap hari. Saya tidak hendak mengajak kita untuk mengambil ini sebagai sebuah rujukan atau metodologis resmi dalam cara mengambil “hari baik”. Namun, apabila ada motivasi semacam itu, maka sepatutnya pula kemerdekaan sebagai sebuah “jembatan emas” haruslah punya makna untuk diantarkan kepada sebuah kehidupan baru. Kehidupan baru yang madani, yang tegak didalamnya kenyamanan dan support penuh struktural kultural dalam berbagai pelaksanaan ibadah. Sholat terutama.

Dalam wawancaranya pula, Bung Karno mengutarakan bahwa pemilihan bulan ramadhan yang dikawinkan dengan tanggal tujuh belas pada hitungan masehi-nya, dimaksudkan agar identik dengan hari “nuzulul Quran” yang diyakini oleh mayoritas kaum muslimin di Indonesia. Hari tersebut merupakan hari turunnya Kitab suci yang menjadi pedoman hidup bagi setiap muslim, yang kemudian menjadi landasan berfikir sebuah manifesto politik termodern masa itu bernama Piagam Madinah.

Argumentasi ketiga, yaitu mengenai dipilihnya hari Jum’at juga disebabkan karena hari Jum’at dalam ajaran Islam merupakan “ sayyidul ayyam “, ibu dari semua hari yang ada. Itulah tiga sebab Bung karno memilih hari Proklamasi pada Jum’at, tanggal tujuh belas masehi, dan bulan Ramadhan secara hitungan hijri.

Dalam konstitusi sah negara kita, teks pembukaan UUD menyebutkan bahwa “kemerdekaan adalah rahmat daripada Tuhan Yang Maha Esa”. Rahmat berasal dari kalimat : ra-hi-ma –yarhamu “ yang bermakna sesuatu pemberian dan anugerah. Rahmat biasanya dihubungkan kepada pemberi rahmat , Tuhan Yang Maha Kuasa, sebab tidak ada yang dapat memberikan sesuatu rahmat kecuali hanya Allah saja. Jika ada seseorang manusia berkeyakinan bahwa rahmat dapat bersumber daripada sealin Allah , maka orang itu telah terjatuh ke dalam kesesatan dan kemusyrikan. Sebab itu setiap bangsa harus meyakini bahwasanya kemerdekaan yang di dapat oleh bangsa Indonesia adalah rahmat daripada Allah semata-mata setelah masyarakat berjuang melawan penjajahan.

Ini ekspresi religiusitas yang amat nyata dari para founding fathers, sekaligus dapat ditafsirkan sebagai cita-cita luhur Indonesia pasca-merdeka. Bung Karno dalam banyak kesempatan, pidato-pidatonya, atau dalam edisi cetak “Indonesia menggugat” kita dengar sering mengatakan bahwa kemerdekaan adalah “jembatan emas”. Artinya, setelah jembatan itu jadi, ada sebuah cita tentang tata dunia baru. Merdeka adalah a bridge to the dream world, dan itu belum terwujud. Bahkan takkan pernah lahir dalam realita kita jika anak-anak bangsa tidak mengapresiasi rahmat kemerdekaan yang sudah ada secara tepat.

Diantara indikasi telah terlaksananya apresiasi terhadap rahmat Tuhan Yang Maha Esa adalah kerendahan hati untuk mengembalikan segalanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Alqur-an, surat Al-Kahfi mencatat kerendah-hatian seorang Dzulqarnain, ahli metalurgi sekaligus penguasa muslim, yang setelah sukses menyelamatkan sebuah kaum dari teror negara (state terorism) Ya’juj-Ma’juj kemudian menisbatkan kesukseskannya kepada Tuhannya.

Hadza rohmatun min rabbi

Ini rahmat dari Tuhanku (Qs.18: 98)

Padahal jelas-jelas tembok itu dibangun atas kecerdasan dan kepeloporan dirinya! Namun, tetap Dzulqarnain tetap mampu mengendalikan ego-nya untuk tidak berbangga diri dan menggunakan segala keberhasilannya untuk menerima ‘upeti’ yang ditawarkan oleh kaum yang telah diselamatkannya itu.

Mungkin, kita perlu mengkaji secara filosofis peran-peran Dzulqarnain dari caranya mengapresiasi rahmat ALLAH. Agar Indonesia yang diproklamirkan pada bulan diturunkannya Alqur-an, dapat menuai berkah dari langkah-langkah kenegaraan yang qur-ani.

4 Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum wr. wb.

    Bersatu, tegakkan Indonesia dengan Islam yang Kaffah.
    Syari’ah dan Khilafah.

  2. As,sebagai seorang yang juga turut mendalami sejarah bangsa ini. menurut hemat saya, akh arya dalam memperkaya khasanah penulis yang berbau sejarah kiranya bisa lebih kritis lagi. bicara tentang berbagai gebrakan jelang dan awal kemerdekaan kaitannya dengan nuansa religiusitas (keislaman,red). maka ada banyak tokoh yang tidak boleh dilupkan (Haji Agus Salim misalnya).
    soekarno sendiri merupakan sosok tokoh bangsa yang banyak mengalami sedikit “konflik bathin”. satu sisi ia masih terikat kuat dengan nilai-nilai nasionalisme, namun disisi lain dia juga mencoba mengakomodir nilai Agamis dan Komunis dalam dirinya. ini bisa kita buktikan dalam catatan perjalanan sejarah selanjutnya bagaimana bung karno mencoba menyatukan ketiganya, yakni dengan lahirnya konsep NASAKOM. padahal kalau kita mau jujur antara ketiganya hampir bisa dikatakan mustahil menyatu.
    barangkali, ini menjadi sedikit masukan saya buat akh arya. agar kemudian khasanah sejarah perjalanan bangsa ini tidak tampak kabur. kebesaran jasa dan nama tokoh di luar Soekarno harus tetap dicatat di setiap lembar sejarah bangsa ini. jangan sampai kita turut menobatkan bung karno secara tidak sadar sebagai tokoh seakan paling berjasa dalam segala bidang.
    Selamat berkarya…
    Salut dan Bangga punya saudara seperti antum.
    secara umum bagus.
    Herman Siregar
    Ketua Puskomda FSLDK Sumatera
    Ukmi Ar-Rahman Unimed
    Mahasiswa Sejarah Unimed
    08126401250

  3. Tulisan Bang Arya ini seharusnya sudah bisa membangunkankan kita semua dari lelap tidur panjang penuh mimpi, sehingga seperti kata Bang Hasdi: Semoga suatu saat nanti republik ini semakin menyadari bahwa kitalah generasi yang sejak dulu dinanti-nanti!

  4. ayo kibarkan panji2Nya kibarkan, Skedar usul mas arya’ gimana kalo tuk tokoh sejarahnya jgn cuma “bung KARNO” aja yang diceritain, masih banyak lagi pahlawan2 bangsa ini yang gak “terpublikasikan” gitu…. misalkan tokoh2 pejuang yang memang memperjuangkan “negara” ini dgn kalimat takbir Allahuakbar,jadi kita2 kan semakin yakin kalo bangsa ini memang diperjuangkan oleh para mujahid2 dakwah Oce…. (ayo adk unimed kapan buat tulisan di situs ini) doakan ane sgera nyusul……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: