Merawat Kaum Revivalis

Buat halaman ini dlm format wordMerawat Kaum Revivalis

(Tulisan ini merupakan Bagian Epilog dalam Buku “Manajemen Lembaga” yang diterbitkan Gamais ITB, 2007) 

Oleh : Arya Sandiyudha *

BTM3 Unimed –  

“Di Timur Matahari mulai Bercahyaglobe.jpg

Bangun dan Berdiri Kawan Semua

Marilah mengatur Barisan Kita

Seluruh Pemuda Indonesia”

Lagu ini dalam beberapa kesempatan dinyanyikan oleh Bung Karno untuk membangkitkan optimisme bangsa Indonesia yang berada di “Timur”. Sambil mengajak anak muda untuk menjadi Gatotkaca yang mewakili karakter ketegasan, kesetiaan, dan jiwa patriot. Di setiap masa pasti ada tokoh-tokoh revivalis (pembangkit)-nya. Modal mereka bukan popularitas seperti ‘singa panggung’ dan ‘macan kertas’ yang banyak di era kini, namun pengurbanan dan perjuangan kolektif. Bukan pula sekedar muda secara biologis, sebab harus ada syarat kejiwaan.

Di era kontemporer Indonesia, kaum muda, kelas menengah penggerak, calon kekuatan bangsa di masa depan, sering disebut-sebut berada di kampus. Bukan karena tebalnya buku yang dilahap, besar IP (Indeks Prestasi) atau gelaran ‘prestasi’ lainnya, namun karena idealisme, kebersamaan dalam bergerak untuk lingkungan sosialnya masih bisa diandalkan. Lalu, terpancinglah setiap masa untuk melihat dan menilai. Diantara penilaian itu dibubuhkan para penyusun buku ini di awal paparannya.

Warna Baru

Saya menolak anggapan bahwa LDK (Lembaga Da’wah Kampus) adalah utama, atau yang “ter-“, dalam kemajuan Kampus. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa LDK dalam beberapa waktu terakhir (sejak 2005) terlihat lebih “segar”. Ia tidak lagi “sekular”, hanya mengurus masalah pembacaan do’a pada akhir acara, dan spesialis ruqyah pada acara camping. Ia sudah punya wajah baru, dari mulai membuka ‘rumah baca’ untuk para adik asuh, hingga membangun gerakan intelektual dari masjid kampus sebagai pelopor budaya baru civitas academica yang tak melulu teori namun juga perjuangan akar rumput.

Konsepsi-konsepsi “baru”; ‘solid-alit-elit’, dan sebagainya telah mengangkat-angkat derajat sosial LDK, di kampus juga nasional. Sebabnya, konsepsi-konsepsi itu jadi tindak nyata. Soliditas kerjasama antar LDK juga terlihat lebih mantap dibanding wadah konsolidasi nasional lainnya. Mulai dari momentum FS-NAS XIII di UnMul. Dari mulai injeksi paradigma hingga perjalanan koordinasi peran kelembagaan para puskom-puskom (Hasdi, Edi, Deny, dkk) dalam dua tahun lamanya. Partisipasi warga kampus pada agenda-agenda LDK juga terjadi lonjakan massif. Paling nyata yaitu aksi serentak bertema “dari Jakarta hingga Jalur Gaza” (2006). Untuk beberapa kampus (UI misalnya) aksi tersebut adalah yang terbesar dalam 7 tahun terakhir.

Diantara gairah lainnya adalah terbitnya buku SPMN “edisi revisi” (yang digagas oleh Yusuf dan kawan-kawan Gamais ITB) ini. Hebatnya, buku-buku semacam ini bermunculan dalam jumlah sampai 20-an dalam tiga tahun terakhir di berbagai daerah. Terbitnya buku-buku semacam ini dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya kemauan kuat LDK untuk dapat mengimplementasikan perkataan Rasulullah saw., Katabal Ihsaana ‘ala kulli syai’ “Hendaklah bermutu dalam segala urusan”.

Bekerjanya kaum revivalis dalam gerak yang bermutu adalah tanda awal kebangkitan itu sendiri, dimana pembaharuan akan jadi awal sumbu. Pembaharuan yang dimaksud adalah momentum titik ungkit yang berproses secara siklus. Kaum revivalis pasti menyadari realita siklus tersebut, bahwa setiap bangsa akan mengalami saat ‘up’, juga saat ‘down’, lalu kembali ‘up’. Ada masa pertumbuhan hingga keemasan, lalu kemerosotan hingga kejatuhan, adapula kebangkitan hingga kemenangan kembali.

Demikianpula yang kita harapkan pada bangsa ini. Sebuah pengalaman pembaharuan dan kebangkitan yang terjadi lagi. Sejarah sudah memperlihatkan masa-masa perjuangan, juga kemerdekaan. Lalu sekarang kita mengalami masa kejumudan dan keambrukan, akibat ide, fatsoen, dan praktik ‘usang’ yang terlalu “percaya diri” namun mandul solusi. Sudah bosan kita dengannya. Maka sekarang ini lah masa dimana kemauan itu hadir dalam level yang tidak dapat ditunda-tunda lagi, masa jelang-didih dari semangat-semangat, masa hampir paripurnanya urat-urat saraf kebangkitan. Itulah tanda dekatnya kematangan pembaharuan Indonesia.

Nuansa Kebangkitan

Spirit yang hadir tersebut sekan-akan terinspirasi perkataan Rasulullah saw. dalam hadits yang berbunyi: InnaLLAHa yab’atsu lii hadzihil ummati ‘ala ra-si kulli mi-ati sanatin man yujaddidu laHaa dienaHa. “Sesungguhnya di awal setiap seratus tahun, Allah mengirimkan kepada umat ini orang yang akan memperbarui agama mereka.” (HR. Abu Dawud, Hakim dan Ath-Thabarani; shahih). Apalagi bertepatan jarak waktunya dari sejarah kelahiran organisasi Islam pertama di Indonesia berskala nasional yang mengakar di berbagai daerah (16 Oktober 1905). Momen yang oleh sebagian ahli disebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Jika kita mengambil sejarah kebangkitan nasional dalam perspektif ini, memang seakan aktor sejarah kebangkitan nasional era kini juga milik organisasi Islam berbasis pemuda. Itu berarti, secara siklus LDK punya potensi sejarah. Ya, Potensi Bersyarat.

Maka sebagai salah satu jaminan agar jiwa, semangat, visi, serta segala potensi yang ada tersebut bermanfaat lama. Kita pun perlu mengulangi tabi’at sejarah. Kita sudah banyak merekam sejarah, bahwa urat saraf pembaharuan bekerja dalam rawatan konsistensi. Pena kita mencatat momen demi momen, dari hari kebangkitan nasional (1905, 1908) ke sumpah pemuda (1928). Juga telah tercatat, dari momen berdirinya gerakan-gerakan politik nasional (1920an) hingga momen kemerdekaan Indonesia (1945, 1949). Di kertas kita juga telah tertulis bahwa antara momen ke momen yang jauh itu selalu ada interaksi diantara mereka. Ide tentang model negara dibicarakan, kemudian dalam waktu 20 tahun prosesnya ia menjadi konsensus dan kenyataan hidup. Ada yang dirawat, ide-ide, spirit-spirit yang di-injeksi. Itu merupakan bukti bahwa syarat revivalisme (kebangkitan) ada pada rajutan langkahnya.

1 Abad berlalu, ini adalah momen untuk mengambil peran dalam sejarah yang pasti mengulangi dirinya (at-tarikhu yu-idu nafsahu). Jika dahulu ada peran besar organisasi Islam berbasis pemuda, lalu menjadi embrio bersatunya pemuda-pemuda. Lalu pemuda-pemuda itu akan membawa kebangkitan (reviva) Indonesia. Maka, itupun sangat mungkin terjadi kembali.

Ini tak berarti kebangkitan itu baru akan terjadi saat ‘haul’ 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Jikalau, alumnus-alumnus organisasi Islam sadar lebih cepat, bersatu lebih cepat, maka kebangkitan itu juga akan hadir lebih cepat. “Deklarasi Jatinangor” yang terdiri dari pimpinan dan pengurus dari Unpad, UI, ITB, UPI, dan Untirta, akhir Juni kemarin merupakan simbol kesadaran tentang pentingnya organisasi nasional yang mewadahi alumni organisasi Islam kampus. Masalahnya, apa alumni-alumni yang lain juga sadar akan realita itu? Lalu, apa cukup kuat keinginannya untuk itu? Lalu apakah ada wujud kongkritnya? Setelah itu apakah rawatan langkahnya bertahan lama dalam maraton panjang nan meletihkan?

Para pendiri bangsa ini merawat cita-cita merdekanya, lalu merdeka mereka dapatkan. Setiap yang bercita hadirnya kebangkitan, maka mereka harus merawat kebersamaan para pembangkit (revivalis)nya. Sebagaimana para keturunan Raden Fatah bin Kertabhumi Prabuwijaya dan Raden Husin bin Arya Pelembang Sputalang yang berupaya mendirikan kembali Kesultanan Palembang Darussalam. Mereka bertujuan melanjutkan agenda syi’ar Islam di Nusantara yang sempat tertunda akibat imperialisme Inggris, Portugal, dan Belanda. Mereka merumuskan syi’ar Islam berbasis ilmu pengetahuan dan humanisme untuk menyelamatkan proyek Indonesia yang tersendat.

LDK sudah punya konsepsinya, punya sistem manajemen mutu, punya potensi ‘Solid’ hubungan antar organisasi, dekat dengan kawulo ‘Alit’, ‘Elit’ muda, progresif, dan kompeten. Punya ini, punya itu. Pasca-membaca buku ini. Kita punya pe-er. Apa mampu itu semua dirawat?

“Di sini madani mulai bercahya

Bangun dan Berdiri Kawan Semua

Marilah mengatur Barisan Kita

Seluruh Pemuda Indonesia”

Kurasa kebangkitan (reviva) tak lama lagi.

Wallahu A’lam.

* Penulis adalah seseorang yang senang melihat orang baik menjadi “besar”. Mantan Ketua Umum FSI FISIP UI (2003/2004), Ketua Umum Salam UI periode 08 (2005/2006). Sekarang sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Trisila Indonesia

           

3 Tanggapan

  1. oia ya, dari buku …

    URL: http://dhimaskasep.wordpress.com

  2. As,produktifitas dalam berkarya menjadi satu keniscayaan. akh arya dalam amatan saya adalah sosok yang gemar menggunakan analisis historis dalam memaparkan ide-idenya.
    untuk tulisan ini saya juga ingin memberi sedikit masukan. dalam salah satu paragraf di atas antum menghubungkan kebangkitan dengan “sumpah pemuda”. perlu kiranya dipahami bersama bahwa peristiwa ini masih menjadi polemik di kalangan para sejarawan. bahkan tidak jarang para sejarawan yang kritis menolak dan membantah akan keberadaan peristiwa ini.
    “sumpah pemuda” dipandang sebagai salah satu mitos dalam penulisan sejarah yang harus segara ditumbangkan. dalam beberapa seminar (menghadirkan asvi warman/sejarawan LIPI) di kampus saya (unimed,red) oleh para sejarawan ini masih dianggap kontroversial bahkan cenderung telah mengada-ada dalam sejarah. DR.Phil.Ichwan Azhari (sejarawan Unimed) dalam beberapa kesempatan sering mengunggapkan ini.
    bahkan dalam forum Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) ternyata para pakar sejarah dari berbagai perguruan tinggi tidak mampu memberi bukti kuat akan peristiwa “sumpah pemuda”.
    sekedar sumbang saran buat akh arya, barangkali antum bisa menggunakan argumentasi historis yang lain, yang tentunya lebih argumentatif dan bisa dipertanggung jawabkan ke-ilmiyahannya.
    wallahu a’lam
    Wassalam
    Herman Siregar
    Ketua Puskomda FSLDK Sumatera Utara
    Ukmi Ar-Rahman Unimed
    Mahasiswa sejarah Unimed
    08126401250
    herman_angkola@yahoo.co.id

  3. Menurut anda mengapa dalam forum masyarakat sejarawan Indonesia (MSI) itu para pakar sejarah tdak mampu memberi bukti yg kuat akan peristia sumpah pemuda ????!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: