Dakwah Kampus Menjawab Tantangan

Buat halaman ini dlm format wordDakwah Kampus Menjawab Tantangan

(Catatan dari Forum Silaturahim Dakwah Kampus Nasional XIV, Lampung, 28 Juli – 2 Agustus 2007) 

Oleh : Anugrah Roby Syahputra

 

BTM3 Unimed – Dakwah kampus semakin menjadi suatu fenomena yang menarik untuk diperhatikan dewasa ini. Dengan segala dinamikanya, para aktivis dakwah kampus terus-menerus secara berkesinambungan menjalankan agendanya. Dunia kampus pun semakin akrab dengan nuansa pergerakan mahasiswa muslim. Daurah, halaqah, mentoring, kajian, seminar sampai pada aksi-aksi keummatan. Busana muslimah pun kini sudah marak bertebaran bak cendawan di musim hujan. Kampus tidak lagi sekedar tempat tumbuhnya lokus intelektual semata. Iapun semakin kental menjadi pusat pertumbuhan semangat dan aktivitas keislaman yang signifikan.            Akan tetapi, segala macam kontribusi dakwah kampus belumlah bisa dikatakan maksimal jika kita berkaca pada realita hari ini. Berbagai fakta dan kejadian telah membuktikan hal tersebut. Lihatlah, bagaimana perda-perda bernuansa syariah dihambat pelaksanaannya dengan dalih aturan itu tidak menghargai pluralitas. Begitu pula dengan Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornografi yang tak kunjung disahkan jua. Akibatnya, beragam media pengumbar kemaksiatan masih dengan leluasa berkeliaran mengunjungi para konsumennya. Itu belum seberapa. Masih banyak kasus lain yang patut diperhatikan seperti pemurtadan di berbagai daerah dan pelarangan jilbab di beberapa sekolah tinggi kedinasan.           

           Hal-hal semacam inilah yang kemudian dibahas dalam rangkaian acara Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional XIV yang digelar di provinsi Lampung. Selama enam hari, ratusan aktivis dakwah kampus dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia berkumpul untuk merapatkan barisan. Berbagai acara mulai dari stadium general, diskusi panel, seminar, pelatihan, sekolah LDK dan persidangan digelar. Turut hadir di sana Ketua MPR RI, DR. Hidayat Nurwahid, anggota DPR RI DR. Irwan Prayitno, Mustafa Kamal, S.Sos dan Dra. Yoyoh Yusroh, pengamat pendidikan Arif Rahman, Rektor Universitas Andalas serta tokoh dan pejabat dari lembaga-lembaga seperti MUI, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, POLRI dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas.           

           Launching Dakwah Kampus Berbasis Kompetensi (DKBK)           

           Memasuki dekade ketiga ini, dakwah kampus tidak ingin lagi melewati hari-harinya dengan stagnasi yang itu-itu saja. Zaman begitu cepat berubah. Today we have to run faster to stay in the same place. Demikian ungkapan Kotler untuk mendeskripsikan situasi zaman yang begitu aneh dan pentingnya melakukan akselerasi agar dapat bertahan hidup di era penuh turbulensi ini. Di lain kesempatan, David Held (Global Trannsformation, 2000) menyatakan bahwa globalisasi memiliki velocity (kecepatan), intencity (kedalaman) dan extencity (keluasan daya jangkau) yang lebih dahsyat dibanding sebelumnya. Hal ini menjadi tantangan sekaligus ancaman bagi dakwah kampus agar segera berbenah dan menata langkah menghadapinya.              

           Pada dasarnya, segenap elemen dakwah kampus tidak boleh melupakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam menjalani perannya. Bahkan para aktivis dakwah kampus (ADK) semestinya menjadi representasi nyata dari tujuan perguruan tinggi. Semua visi dan misi kampus harus mampu diterjemahkan oleh ADK dengan tafsiran yang tepat dengan memberinya sibghah (celupan warna) Allah. Sama halnya dengan visi pendidikan nasional untuk menciptakan insan akademis yang kompetitif, maka ADK juga harus tampil dengan peran resminya sebagai mahasiswa menyongsong babak baru dakwah kampus yang progresif dan kompetitif.           

           Dalam momen FSLDKN XIV ini, format Dakwah Kampus Berbasis Kompetensi (DKBK) telah secara resmi digulirkan. Konsep DKBK yang pertama kali tercetus pada FSLDKN XIII Samarinda ini  mengatur secara jelas dan tegas produk dakwah kampus yang dihasilkan. Tujuannya sederhana: menjawab proporsionalitas (at-tawazun) yang belum tuntas. Amal dakwah yang seimbang antara da’wiyah (kaderisasi), fanniyah (keilmuan dan keterampilan) dan siyasiyah (politik) menjadi titik tekan. Karena sesungguhnya masing-masing amal dakwah tersebut bukanlah sesuatu yang terpisah atau satu hal lebih urgen dari hal yang lainnya. Ketiganya merupakan kesatuan amal terintegrasi yang menjadi kekhasan tersendiri bagi dakwah kampus. Ketertinggalan salah satu amal dakwah di dalamnya merupakan sebuah kepincangan yang harus sesegera mungkin direparasi. Misalnya, selama ini amal fanniyah seolah-olah dianaktirikan oleh LDK dibandingkan dengan amal lainnya.           

           Maka, untuk itulah konsep DKBK diluncurkan. Sehingga akan semakin banyak aktivis dakwah kampus yang mengikuti jejak Shafwan Al-Banna, aktivis LDK SALAM UI yang meraih prestasi sebagai pemenang pemilihan Mahasiswa Berprestasi Nasional 2007 dan kini menjadi penulis buku produktif dan duduk di Majelis Wali Amanat UI. Berbagai lembaga keilmuan berbasis fakultas atau bahkan jurusan kini semakin digalakkan sehingga proses penyebaran pemikiran (nasyrul fikrah) itu tidak hanya menggunakan ayat-ayat qauliyah tapi juga ayat kauniyah (alam semesta). Supaya dengan belajar fisika, kimia, sastra, aristektur, metalurgi, pertanian dan segala disiplin ilmu setiap mahasiswa muslim yang dijadikan sebagai mad’u (obyek dakwah) dapat semakin tercerahkan dengan Islam dan dekat dengan Rabb-nya. Jadi, segala produk dakwah kampus dapat memberikan sentuhan-sentuhan warna ajaran ilahiyah di panggung negara baik sebagai penguasa, pengusaha, sipil yang berdaya serta ilmuwan dan ulama (Arya Sandhiyudha dalam Renovasi Dakwah Kampus, 2006).           

           Menatap Masa Depan Dakwah Kampus           

           Saat ini, geliat lembaga dakwah kampus (LDK) dengan segala derivasinya seperti Pusat Kajian Syariat Islam Mahasiswa (PKSI-M), Jaringan Mahasiswa Anti Pemurtadan (JAMAAD), Jaringan Muslimah, Media Centre LDK hingga yang tak punya hubungan struktural seperti Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) telah lumayan dirasakan masyarakat. Hanya saja, untuk ukuran zaman dengan perubahan yang begitu cepat terjadi, semua itu belum berarti apa-apa.           

           Oleh karenanya, para pegiat dakwah kampus harus merumuskan formulasi yang tepat untuk melakukan akselerasi perbaikan ummat dan bangsa. Seorang yang visioner haruslah mempertimbangkan tiga hal untuk melakukan pembakuan strategi itu, yaitu: pengalaman masa lalu (at-tajribah al-madhiyah, QS. 59: 2), realitas masa kini (al haqiqah al-hadhirah, QS. 4: 49) dan prospek masa yang akan datang (at-tawaqu’at al-mustaqbaliyah, QS. 59: 10). Inilah yang disebut manhaj haroki, pedoman untuk bergerak. Dari situ, kita akan mampu memanfaatkan dengan maksimal potensi yang bertaburan dari para mahasiswa: idealisme, kecerdasan, sikap kritis, kepekaan sosial, keberanian dan pengorbanan (Mahfudz Siddiq dalam Risalah Dakwah Thulabiyah, 2001).           

           Arya Sandhiyudha kemudian menerangkan formulasinya, agar peradaban madani yang diridhai Allah SWT dapat lekas terwujud. Ia menyebutnya Solid-Alid-Elit atau Superteam-Supermie-Superman.           

           Pertama, solid atau superteam. Inilah marhalah (tahapan pertama) yang harus dilalui. Bagaimana LDK memiliki soliditas internal yang kokoh dengan adanya visi bersama yang jelas, struktur yang mantap serta  kepahaman para jundi (aktivis) dan pelibatan emosi. Dalam bahasa lain, kita menemukan sebuah stimuli profetik mengenai substansi soliditas tim dalam taujih rabbani QS. Al-Ma’idaah: 146-148. Mulai dari kuantitas yang besar dari mujahid yang siap maju di barisan jihad fi sabilillah. Kemudian, kualitas yang andal dalam medan perjuangan: tidak mudah lemah (’adamul wahn), tidak mudah lesu (’adamu adh-dha’fu), tidak gampang menyerah (’adamul istikanah). Berikutnya adalah menyadari kelemahan lawan. Sehingga fokus kerja kaderisasi LDK adalah (1) to raise quantity (numu al kamiyah), kuantitas ;(2) to develop the quality (numu al nau’iyah), kualitas;(3) to build up the competence (numu al qudrah), kompetensi.           

           Kedua, alit atau supermie. Alit dalam bahasa Jawa artinya “kecil”. Konsep ini ditujukan untuk rakyat kecill di kampus yaitu basis sosial (qaidah ijtimaiyah). Di sini, harus terbangun citra baru ADK yang inklusif dalam pergaulan dalam pandangan publik. Re-marketisasi lembaga juga harus dilakukan agar para ADK tidak hanya dipanggil dalam acara-acara baca do’a atau diminta meruqyah bila ada kesurupan jin. Selain itu, sinergi antara moral intelektual dengan logika perut rakyat juga mesti diperhatikan. Karena orang yang lapar akan kesulitan atau bahkan tidak bisa mencerna sebaik apapun nasehat.           

           Ketiga, elit atau superman. Maksudnya, setelah lembaga kokoh dan kredibilitas sosial terbangun, maka sudah saatnya figur ADK muncul menjadi pemimpin yang melayani (khadimul ummah). Di sini dibutuhkan profil aktivis yang ideal dengan kepemimpinan efektif untuk mengulang kisah sukses para khalifah dalam rentang sejarah keemasan Islam.             

           Akhirnya, perlu ditanamkan keyakinan bahwa kullu zamanin rijaluha, setiap zaman punya pahlawannya sendiri. Bahkan seorang pembaharu (mujaddid) senantiasa hadir setiap seratus tahun sekali (HR. Abu Dawud, Hakim dan Thabrani). Dengarlah motivasi dari Hasdi Putra ini. Gerakan dakwah kampus yang –meminjam istilah Arya- hayawi dengan paradigma madani dan segenap ciri khas: solid, alit, elit serta unik, menarik, simpatik. Sistematis, tidak sporadis sehingga bertenaga. Keseluruhannya adalah pencerahan yang sangat berharga. Apalagi dibangun dalam nuansa imani dengan bahasa yang akrab dan bersahabat. Semoga suatu saat nanti, republik ini semakin menyadari, mungkin kitalah generasi yang sejak dulu dinanti-nanti. Amiin.■

Penulis adalah Ketua BTM FBS Universitas Negeri Medan Periode 2006-2007

Penulis juga pegiat dakwah kampus dan anggota Forum Lingkar Pena Cabang Medan

e-mail: wongsoleh@telkom.net

6 Tanggapan

  1. As. budaya menulis dan berdiskusi adalah menjadi satu keharusan di zaman ini. apalagi untuk mewujudkan cita besar menghadirkan dakwah kampus yang lebih syumul (totalitas). konsep trilogi dakwah kampus (dakwiy, siyassi, dan ilmy) adalah diantara langkah nyata kita untuk menwujudkan cita besar itu. apa yang dilakukan oleh akh Anugrah Roby, layak diberikan apresiasi positif dan semestinya menstimulus ADK lainnya di Unimed.
    Horas
    Wassalam
    Herman Siregar
    Ketua Puskomda FSLDK Sumatera Utara
    Ukmi Ar-Rahman Unimed
    08126401250
    herman_ukmi@yahoo.co.id

  2. Tulisan ini bagus secara substansi,
    Saran saya segera dimasukkan di situs-situs lainnya. Setahu saya fsldkn.org kan ada, kok belum masuk di situ?

    Namun, sebelum disebarluaskan saya ada koreksi sedikit:
    pertama, superteam-supermie-superman, atau Solid-Alit-Elit itu bukan konsepnya Hasdi Putra, tapi punyanya Arya Sandhiyudha.
    Kebetulan saya anak UI, dulu Arya Sandhiyudha itu kakak angkatan saya, Sejak kak Arya menjadi Ketua Umum FSI FISIP UI, kemudian menjadi Ketua Umum SALAM UI, sampai menjadi Ketua MS SALAM UI sudah dikenalkan konsep itu… Jadi, ya…kira-kira sejak tahun 2003 awal sudah jadi trademark beliau, semua ADK UI juga tahu itu. Mungkin Hasdi termasuk orang yang terinspirasi dengan beliau juga, kan kak Arya kabar-kabarnya sih kalo ngisi acara sampe ke Padang juga… Terus, abang Anugerah juga bisa cek di buku “Renovasi Da’wah Kampus”, kan disitu konsep itu juga muncul gitu.

    Kedua, karena saya juga dulu anak SALAM UI, bahkan saya sampai 4 tahun berada di SALAM (he-he-he, kaya S1 aja ya? ) saya mau koreksi satu hal lagi… yang namanya Shofwan Al Banna itu gak pernah aktif di LDK SALAM UI. Meskipun dalam banyak acara, Bang Shofwan sering ngaku pernah aktif, tapi ya sudah lah … mungkin itu buat nambah CV aja, buat jadi mapres dan MWA.. Yang ini juga semua anak LDK SALAM UI juga tahu..

    Jadi saran saya itu: tulisan ini bagus untuk dibaca yang lain, biar orang-orang kaya saya yang gak ikut FSLDK di Lampung jadi tahu… tapi tolong di-edit dulu, sebab ada dua poin (tadi) yang perlu sedikit diperbaiki, agar dapat dipertanggung jawabkan

    I think that’s all

  3. mantap, kata yang bisa saya ucapkan untuk tulisan ini, semoga bisa menstimulus adk2 yg lain untuk segera bisa menulis minimal untuk kalangan “sendiri”, konsep super team super mie dan super man, merupakan idealita dari sebuah LDK kapan ya “Kampus Hijau” menemukan super man itu??? Mejuah-juah Allahuakbar!

  4. sebenarnya pengen komentar sih sama komentar al-akh pemerhati gerakan sekaligus tabayyun soal keterlibatan di SALAM UI. silakan saja ke terpaksabikinemail@yahoo.com. Smoga Allah melindungi kita dari prasangka…

    Keep istiqomah, sahabat sekalian!

  5. Sebarkan website ini, semakin bnyk yg thu ttg kristenisasi (pemurtadan) mk smkin kecil peluang mrk..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: