Zionis n Yahudi

Oleh     : Saiful Ahyar (Kaderisasi BTM FBS)
e mail  :
saifkammi@telkom.net

BTM3 Unimed – Sebagaimana disebutkan sebelumnya, sikap toleransi yang
wajib diperlihatkan kaum Muslimin terhadap orang-orang
ahli kitab telah terbukti sepanjang sejarah Islam. Selama
berabad-abad, umat Islam memperlakukan kaum Yahudi dengan
sangat bersahabat dan mereka menyambut persahabatan ini
dengan kesetiaan. Namun, hal yang telah merusak keadaan
ini adalah Zionisme.

Zionisme muncul pada abad ke-19. Dua hal yang menjadi ciri
menonjol Eropa abad ke-19, yakni rasisme dan kolonialisme,
telah pula berpengaruh pada Zionisme. Ciri utama lain dari
Zionisme adalah bahwa Zionisme adalah ideologi yang jauh
dari agama. Orang-orang Yahudi, yang merupakan para mentor
ideologis utama dari Zionisme, memiliki keimanan yang
lemah terhadap agama mereka. Bahkan, kebanyakan dari
mereka adalah ateis. Mereka menganggap agama Yahudi bukan
sebagai sebuah agama, tapi sebagai nama suatu ras. Mereka
meyakini bahwa masyarakat Yahudi mewakili suatu ras
tersendiri dan terpisah dari bangsa-bangsa Eropa. Dan,
karenanya, mustahil bagi orang Yahudi untuk hidup bersama
mereka, sehingga bangsa Yahudi memerlukan tanah air
tersendiri bagi mereka.

Hingga saat kemunculan Zionisme di Timur Tengah, ideologi
ini tidak mendatangkan apapun selain pertikaian dan
penderitaan. Dalam masa di antara dua perang dunia,
berbagai kelompok teroris Zionis melakukan serangan
berdarah terhadap masyarakat Arab dan Inggris. Di tahun
1948, menyusul didirikannya negara Israel, strategi
perluasan wilayah Zionisme telah menyeret keseluruhan
Timur Tengah ke dalam kekacauan.

Titik awal dari Zionisme yang melakukan segala kebiadaban
ini bukanlah agama Yahudi, tetapi Darwinisme Sosial,
sebuah ideologi rasis dan kolonialis yang merupakan
warisan dari abad ke-19. Darwinisme Sosial meyakini adanya
perjuangan atau peperangan yang terus-menerus di antara
masyarakat manusia. Dengan mengindoktrinasikan ke dalam
otak mereka pemikiran “yang kuat akan menang dan yang
lemah pasti terkalahkan”, ideologi ini telah menyeret
bangsa Jerman kepada Nazisme, sebagaimana orang-orang
Yahudi kepada Zionisme.

Kini, banyak kaum Yahudi agamis, yang menentang Zionisme,
mengemukakan kenyataan ini. Sebagian dari para Yahudi taat
ini bahkan tidak mengakui Israel sebagai negara yang sah
dan, oleh karenanya, menolak untuk mengakuinya. Negarawan
Israel Amnon Rubinstein mengatakan: “Zionisme adalah
sebuah pemberontakan melawan tanah air (Yahudi) mereka dan
sinagog para Pendeta Yahudi”. (Amnon Rubinstein, The
Zionist Dream Revisited, hlm. 19)

Pendeta Yahudi, Forsythe, mengungkapkan bahwa sejak abad
ke-19, umat Yahudi telah semakin jauh dari agama dan
perasaan takut kepada Tuhan. Kenyataan inilah yang pada
akhirnya menimpakan hukuman dalam bentuk tindakan kejam
Hitler (kepada mereka), dan kejadian ini merupakan seruan
kepada kaum Yahudi agar lebih mentaati agama mereka.
Pendeta Forsythe menyatakan bahwa kekejaman dan kerusakan
di bumi adalah perbuatan yang dilakukan oleh Amalek
(Amalek dalam bahasa Taurat berarti orang-orang yang
ingkar kepada Tuhan), dan menambahkan: “Pemeluk Yahudi
wajib mengingkari inti dari Amalek, yakni pembangkangan,
meninggalkan Taurat dan keingkaran pada Tuhan, kebejatan,
amoral, kebiadaban, ketiadaan tata krama atau etika,
ketiadaan wewenang dan hukum.” (Rabbi Forsythe, A Torah
Insight Into The Holocaust,
http://www.shemayisrael.com/rabbiforsythe/holocaust.)

Zionisme, yang tindakannya bertentangan dengan ajaran
Taurat, pada kenyataannya adalah suatu bentuk fasisme, dan
fasisme tumbuh dan berakar pada keingkaran terhadap agama,
dan bukan dari agama itu sendiri. Karenanya, yang
sebenarnya bertanggung jawab atas pertumpahan darah di
Timur Tengah bukanlah agama Yahudi, melainkan Zionisme,
sebuah ideologi fasis yang tidak berkaitan sama sekali
dengan agama.

Akan tetapi, sebagaimana yang terjadi pada bentuk-bentuk
fasisme yang lain, Zionisme juga berupaya untuk
menggunakan agama sebagai alat untuk meraih tujuannya.

Penafsiran Taurat yang Keliru oleh Kaum Zionis

Taurat adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi
Musa. Allah mengatakan dalam Alquran: “Sesungguhnya Kami
telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk
dan cahaya (yang menerangi),…” (QS. Al-Maa-idah, 5:44).
Sebagaimana pula dinyatakan dalam Alquran, isi Taurat di
kemudian hari telah dirubah dengan penambahan perkataan
manusia. Itulah mengapa di zaman sekarang telah dijumpai
“Taurat yang telah dirubah”.

Namun, pengkajian terhadap Taurat mengungkap keberadaan
inti ajaran-ajaran Agama yang benar di dalam Kitab yang
pernah diturunkan ini. Banyak ajaran-ajaran yang
dikemukakan oleh Agama yang benar seperti keimanan kepada
Allah, penyerahan diri kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya,
takut kepada Allah, mencintai Allah, keadilan, cinta,
kasih sayang, menentang kebiadaban dan kedzaliman tertulis
dalam Taurat dan bagian-bagian lain dari Kitab Perjanjian
Lama.

Selain itu, peperangan yang terjadi sepanjang sejarah dan
pembantaian yang terjadi ini dikisahkan dalam Taurat. Jika
seseorang berniat untuk mendapatkan dalil – meskipun
dengan cara membelokkan fakta-fakta yang ada – untuk
membenarkan tindakan keji, pembantaian dan pembunuhan, ia
dapat dengan mudah mengambil bagian-bagian ini dalam
Taurat sebagai rujukan untuk kepentingan pribadinya.
Zionisme menempuh cara ini untuk membenarkan tindakan
terorismenya, yang sebenarnya adalah terorisme fasis, dan
ia sangat berhasil. Sebagai contoh, Zionisme telah
menggunakan bagian-bagian yang berhubungan dengan
peperangan dan pembantaian dalam Taurat untuk melegitimasi
pembantaian yang dilakukannya terhadap warga Palestina tak
berdosa. Ini adalah penafsiran yang tidak benar. Zionisme
menggunakan agama sebagai alat untuk membenarkan ideologi
fasis dan rasisnya.

Sungguh, banyak orang-orang Yahudi taat yang menentang
penggunaan bagian-bagian Taurat ini sebagai dalil yang
membenarkan pembantaian yang dilakukan terhadap warga
Palestina sebagai tindakan yang benar. The Neturie Karta,
sebuah organisasi Yahudi Ortodoks anti Zionis, menyatakan
bahwa, nyatanya, “menurut Taurat, umat Yahudi tidak
diizinkan untuk menumpahkan darah, mengganggu, menghina
atau menjajah bangsa lain”. Mereka menekankan lebih jauh
bahwa, “para politikus Zionis dan rekan-rekan mereka tidak
berbicara untuk kepentingan masyarakat Yahudi, nama Israel
telah dicuri oleh mereka”. (Rabbi E. Schwartz,
Advertisement by Neturei Karta in New York Times, 18 Mei
1993)

Dengan menjalankan kebijakan biadab pendudukan atas
Palestina di Timur Tengah dengan berkedok “agama Yahudi”,
Zionisme sebenarnya malah membahayakan agama Yahudi dan
masyarakat Yahudi di seluruh dunia, dan menjadikan warga
Israel atau Yahudi diaspora sebagai sasaran orang-orang
yang ingin membalas terhadap Zionisme.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: