Saat Kita Dipisahkan oleh Dinding Dakwah Profesi

BTM3 Unimed 

Pertemuan kita di suatu hari
Menitikkan ukhuwah yang sejati
Bersyukur ku ke hadap illahi
Di atas jalinan yang suci
Kan ku utuskan salam ingatanku
Dalam doa kudusku sepanjang waktu
Teman?, betapapun pilunya hati ini menghadapi perpisahan ini
Hari-hari seperjuangan telah kita rasa bersama
Semoga Allah meridhai persahabatan dan perpisahan ini
Teruskan perjuangan
Senyuman yang tersirat di bibirmu
Menjadi ingatan setiap waktu
Tanda kemesraan bersimpul padu
Kenangku di dalam doamu

– Doa Perpisahan ( The Brothers) –

Hudzaifah.org – Di suatu sore di depan masjid kampus, aku berpapasan dengan temanku yang sudah seminggu lebih tak bertemu. Padahal dulu, setiap hari kami bisa selalu bertemu di sekret, tetapi kini tidak lagi karena sebentar lagi kami akan lulus dan temanku ini pun sedang magang.

Seperti biasa, saat bertemu, kami saling mengucap salam, dan berjabat tangan. Temanku ini alhamdulillah mendapatkan hidayahnya di kampus dan sudah setahun berjilbab rapi. Banyak hal yang telah kami lewati bersama di organisasi Islam kampus. Ia lalu berkata, ?Sini deh.. duduk di sini, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.? Ia berkata itu sambil menggandeng tanganku dan mengarahkanku untuk duduk. Aku tersenyum padanya. Ia pun tersenyum padaku. Dan kami berdua duduk di depan masjid. Langit mendung. Angin bertiup sepoi-sepoi.

Ia kemudian bercerita sedikit tentang kondisinya di tempat magang. Dan lalu tiba-tiba ia berkata, ?Pas dateng waktu shalat, aku jadi ingat kamu.., karena biasanya ada kamu yang ngingetin?, ?ukhti? ukhti.. ayo shalat?, tapi? sekarang di tempat kerja, ngga ada lagi yang ngingetin?..? Ia berkata itu sambil terisak tertahan dan kemudian menutupkan tangannya ke wajahnya. Aku berusaha tersenyum mendengarnya, tetapi akhirnya tidak kuat juga karena mata ini sudah panas dan mengalirlah air mata di pipi.

Kami berdua menangis bersama di depan masjid, meski banyak akhwat yang lalu lalang dan bertanya, ?Ada apa?? . Kami terus menerus berusaha menyeka air mata kami?

Mata ini menangis karena terbayang jelas bagaimana da’wah kita ke depan di dunia kerja, yang bisa saja tidaklah sekondusif di organisasi Islam kampus, yang dengan banyaknya ikhwah di kampus, kita bisa saling mengingatkan. Saat itu berkelebat pula dalam benakku tentang kisah seorang alumni akhwat yang di tempat kerjanya sangat sulit untuk shalat karena teman-temannya pun tak shalat. Atau dari kisah lainnya, bahwa di tempatnya bekerja, banyak yang tak puasa di bulan Ramadhan.

Sesungguhnya usai Da’wah Kampus ini, masih ada Da’wah Profesi yang bisa jadi jauh lebih berat. Saat itulah idealisme yang selama ini kita gusung akan menjadi nyata dengan menjadi bagian dari masyarakat. Tarbiyah, ukhuwah dan kaderisasi kepemimpinan selama da’wah kampus, akan diuji kekuatannya. Semoga kita bisa tetap istiqomah meski kelak sudah tak lagi menjadi Aktivis Da’wah Kampus. Tarbiyah Dzatiyah atau mentarbiyah diri sendiri adalah benteng utama, pun bergabung dengan da?wah setempat dan menjadi ghurabaa’ yang siap mewarnai lingkungannya.

Nikmatilah masa-masa kebersamaan saat masih berda’wah kampus. Keceriaan, dan segala dinamika yang ada di da’wah kampus, kelak akan menjadi kenangan yang indah dan tak terlupakan. Dan semua kenangan itu dapat menjadi bahan bakar kita untuk menciptakan lagi lingkungan islami dimanapun kita berada. Mencetak orang-orang di sekeliling kita agar menjadi ikhwah-ikhwah kita. Sehingga di belahan bumi manapun, di Timur maupun di Barat, ada wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pembicaraan kami sore itu, tak berlangsung lama dan akhirnya kami berdua harus berpisah di depan masjid kampus dengan mata sembab, hati merindu dan dengan sebuah sketsa tentang da’wah masa depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: