Bukan Hanya Salah Akhiku…

BTM3 Unimed – Saya pernah berada dalam satu lingkungan dengan ikhwan yang Allah karuniakan kepadanya wajah yang subhanallah, tutur kata yang sopan, lemah lembut, dan alim, sehingga membuatnya dikagumi oleh banyak ikhwan maupun akhwat. Ia benar-benar dijadikan teladan bagi ikhwah pada umumnya. Pujian sering dilontarkan kepadanya, entah hanya dalam bentuk celetukan ringan ataupun memang serius ingin memuji setinggi langit.

Hari demi hari berlalu. Hanya ada namanya di setiap event. Dalam arti, selalu ia yang menjadi figur untuk ditampilkan di depan sebagai pembawa acara, kultum dan sebagainya. Semua, bergantung kepadanya. Pun, ketika digelar teater Islam, ia menjadi pemeran utama yang –sudah dapat dipastikan– membuat para penonton ammah wanita berteriak histeris memanggil namanya. Sampai?sampai ada yang memberi sekuntum bunga, usai pementasan tersebut.

Hingga ?suatu hari, tersiarlah kabar yang membuat hati para ikhwah tersentak luar biasa dan terluka. Karena sang ikhwan yang selama ini dijadikan teladan, telah mengumandangkan gerakan pacaran Islami. Ia membela diri bahwa yang dilakukannya memang pacaran, tetapi Islami, sehingga sah-sah saja di dalam Islam. Ia pun memasang artikel yang membolehkan pacaran Islami, di mading. Dengan siapakah ia berpacaran? Dengan salah satu fans-nya.

Ikhwah yang lain tentu tak tinggal diam melihat tindakan nyeleneh ini, dan segera memberi pertolongan pertama berupa tausiyah (nasehat). Karena kejadian ini bukan hanya akan berdampak pada pribadi saja, namun bisa berdampak luas pada khalayak, sebab ia figur terdepan dakwah. Terjadilah, sebuah polemik di lapangan. Banyak ammah yang mempertanyakan hal ini, ?Bukankah si fulan, sang aktivis masjid itu, juga pacaran??

Meski saya sadari kedudukan saya ketika itu, yang notabene baru pemula dalam mendalami Islam, tetapi hati saya terpanggil untuk ikut beramar ma?ruf nahi munkar, setelah hampir semua ikhwan tak sanggup menasehatinya. Saya memberanikan diri memberikan buku hadits dan menunjukkan kepadanya sebuah hadits mengenai zina tangan, zina kaki, zina lisan, zina telinga, zina mata, dan zina hati. Pun hadits tentang pemuda yang sebaiknya berpuasa bila belum mampu menikah. Saya tinggalkan begitu saja ia dengan buku itu. Ia tertunduk sejenak, membaca, dan menutup buku itu. Entah apa yang dipikirkannya.

Waktu berlalu cukup lama. Hingga suatu hari terdengar kabar di kalangan ikhwah bahwa sang ikhwan tersebut sudah memutuskan kekasihnya. Semua ikhwah bersyukur karena ia masih mau mendengar nasehat-nasehat kami, dan kembali ke jalan yang benar.

Kisah ini hanyalah untuk kita ambil hikmahnya, bahwa kita semua turut bertanggung jawab atas pengkondisian saudara kita. Memuji berlebihan dan mengidolakan di hadapannya, akan membawa dampak yang kurang baik. Jika orang yang kita rujuki itu ada dalam keadaan lemah iman, maka dapat membuatnya lupa daratan, bahkan bisa lupa ibadah dan bersyukur kepada-Nya. Alhamdulillah sang ikhwan ini segera bertaubat, tetapi bagaimana bila tidak? Disorientasi dalam da?wah. Kala niat yang semula ikhlas hanya karena-Nya, namun di tengah perjalanan, banyak rintangan dan godaan, yang merusak keikhlasan. Entah itu disebabkan karena wanita, kekuasaan, atau harta.

Dan untuk akhiku dan ukhtiku yang lain? Suka atau tidak, terkadang dakwah memang mengharuskan kita tampil di depan umum, hingga banyak orang yang mengenal kita. Dan di antara para aktivis, pasti ada beberapa orang yang memang sangat menonjol, atau memang sengaja ditonjolkan oleh jamaah. Konsekuensinya, hal ini dapat membuat aktivis dan muslim lain terkagum-kagum padanya. Adalah menjadi tanggung jawab kita juga untuk menjaga akhi dan ukhti kita, agar ia tetap bercahaya keikhlasannya, hingga bertemu Rabbnya.

Dikisahkan, Hasan Al Banna dipuji oleh sang pembawa acara, bahwa inilah sang pemuda bak Rasulullah saw dan para ikhwan adalah bak para sahabat. Hasan Al Banna sontak segera meluruskan pernyataan itu dan mengatakan bahwa dirinya bukanlah seperti yang dikatakan sang pembawa acara itu, karena ia hanyalah seorang Hasan Al Banna yang memiliki kekurangan dan tidak selayaknya disejajarkan dengan Rasululah saw yang ma?sum.

Berhati-hati terhadap lisan, untuk tidak memuji manusia hingga setinggi langit. Inginkah kita kehilangan saudara, lantaran kita tidak bisa menjaga ucapan dan celetukan seperti, ?Waduh, akh?antum memang hebat.? Atau ?Ane calonin antum jadi ketum, deh!? ?Antum gitu loh, siapa lagi yang bisa?? ?Wah, binaan antum jadi semua nih, hebat!?

Mengkondisikan dan mem-back up saudara-saudara kita adalah menjadi tugas dan tanggung jawab amal jama?i pula. Semoga kita dapat saling menjaga. Seperti ungkapan Asy Syahid Imad Aqil, mujahid Palestina, yang ketika dipuji oleh teman-temannya akan keberanian aksinya melawan tentara-tentara Israel, ia menjawab bahwa tak ada gunanya membicarakan amal yang telah lalu, karena dapat merusak amal (dengan riya ?red). Dan ia berkata, ?Riya lebih aku takuti daripada tentara-tentara Israel.? []

By: Jundullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: