Merelakan Harta, Ridha Kembali Bersama Kekasih

BTM3 Unimed – Perang Hunain baru saja usai dengan kemenangan di pihak kaum muslimin yang membuahkan jumlah ghanimah yang besar. Setelah selama sepuluh hari menunggu dan tak ada utusan musuh yang datang untuk mendapatkan kembali barang-barang milik mereka, Rasulullah kemudian mulai membagi harta rampasan, agar para pemimpin kabilah dan pemuka Makkah tidak banyak bicara lagi.

Orang-orang yang baru masuk Islam dan hatinya masih lemah diberi bagian lebih dahulu dengan jumlah yang relatif lebih besar. Termasuk dalam kelompok ini adalah orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam setelah Fathul Makkah, yaitu Abu Sufyan bin Harb dan kedua anaknya, Yazid dan Mu’awiyah, Hakim bin Hizam, Shafwan bin Umayyah dan Al Harits bin Al Harits bin Kaladah.

Orang-orang Anshar termasuk mereka yang tidak bisa menerima kebijakan beliau ini, karena mereka tidak menerima bagian dari harta rampasan. Padahal justru merekalah yang lebih banyak dilibatkan saat terjadi krisis, bertempur bersama Rasulullah SAW hingga dapat membalik keadaan pasukan muslimin, yang tadinya kocar-kacir menjadi menang secara telak. Tapi justru mereka tidak mendapatkan apa-apa.

Lalu Sa’ad bin Ubadah menghadap Rasulullah, ”Ya Rasulullah, di dalam diri orang-orang Anshar ada perasaan yang mengganjal terhadap diri engkau, karena apa yang engkau lakukan dalam membagi harta rampasan itu. Engkau membagi-bagikannya kepada kaum engkau sendiri dan engkau memberikan bagian yang amat besar kepada berbagai kabilah Arab, sementara orang-orang Anshar itu tidak mendapatkan apapun.”

”Lalu, di manakah engkau menempatkan dirimu, wahai Sa’ad?” tanya Rasulullah.

”Ya Rasulullah, aku tidak mempunyai pilihan lain melainkan harus bersama kaumku,” jawab Sa’ad.

”Kalau begitu, kumpulkanlah kaummu di kandang ini,” sabda beliau.

Setelah semua orang Anshar dikumpulkan, Rasulullah datang dan berbicara kepada mereka.

”Amma ba’du. Wahai semua orang Anshar, ada kasak-kusuk yang sempat kudengar dari kalian, dan di dalam diri kalian ada perasaan yang mengganjal terhadap aku. Bukankah dulu aku datang, sementara kalian dalam keadaan sesat, lalu Allah memberikan hidayah kepada kalian melalui aku? Bukankah dulu kalian dalam keadaan kekurangan, lalu Allah menjadikan kalian kaya? Bukankah dulu kalian saling bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian?”

”Benar. Allah dan Rasul-Nya lebih murah hati dan lebih banyak karunianya,” jawab mereka tertunduk menatap ke tanah.

”Apakah kalian tidak mau menjawabku, wahai orang-orang Anshar?” tanya beliau.

Mereka ganti bertanya, “Dengan apa kami harus menjawabmu, ya Rasulullah? Milik Allah dan Rasul-Nya lah anugerah dan karunia.”

Rasulullah kemudian bersabda, ”Demi Allah, kalau kalian menghendaki, dan kalian adalah benar lagi dibenarkan, maka kalian bisa mengatakan padaku, ’Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkan engkau. Engkau datang dalam keadaan lemah lalu kami menolong engkau. Engkau datang dalam keadaan terusir, lalu kami memberikan tempat. Engkau datang dalam keadaan papa, lalu kami menampung engkau.’”

Air matapun mulai menggenang di pelupuk, dan isak mulai terdengar…

”Wahai semua orang Anshar, apakah di dalam hati kalian masih membersit hasrat terhadap dunia, yang dengannya aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam, sedangkan keislaman kalian tak mungkin kuragukan?”

Mereka semakin terisak-isak, air matapun semakin deras mengucur…

”Wahai semua orang Anshar, apakah kalian tidak ridho jika orang-orang lain pulang membawa domba dan onta, sedangkan kalian kembali bersama Rasul Allah ke tempat tinggal kalian?”

Sesenggukan semakin keras terdengar dan jenggot-jenggot sudah basah oleh air mata…

”Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentu aku termasuk orang-orang Anshar. Jika orang-orang menempuh suatu jalan di celah gunung, dan orang-orang Anshar menempuh suatu celah gunung yang lain, tentu aku memilih celah yang ditempuh orang-orang Anshar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang Anshar, anak orang-orang Anshar dan cucu orang-orang Anshar…”

Dan, sebuah akhir yang mengharu bahagia, ”Kami ridha kepada Allah dan Rasul-Nya dalam pembagian ini.. kami ridha Rasul Allah menjadi bagian kami..”

Maraji’: Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury

 

Oleh: Jundullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: