Ma’iyatullah dan Optimisme Kader Da’wah

BTM3 Unimed – Dengan asma Allah SWT semua alam ini diciptakan. Dengan asmaNya kita selaku manusia mengetahui sesuatu serta dapat membaca dan menulis, lalu kepada-Nya kita akan kembali. Bagi manusia yang dikaruniai Allah SWT kesadaran, proses itu tidak boleh hanya terjadi secara fisik dan alami belaka. Apalagi bagi kita yang dikaruniai keimanan. Dengan penuh kesadaran keimanan kita harus memulai setiap aktivitas dalam hidup ini dengan asma Allah SWT, kita menjalani keseharian dengan syariah Allah dan mengarahkan keseluruhan hidup ini kepada husnul khatimah dan mardhatillah.

Bila suatu saat kita lupa terhadap Allah SWT, menjalankan suatu kegiatan atau program dengan nama selain Allah SWT, tidak memastikan bahwa apa yang kita kerjakan telah sesuai dengan syariat-Nya, tidak menajamkan perspektif bahwa kerja kita insya Allah diridhoi-Nya. Dalam situasi demikian kita tidak lebih baik dari posisi seorang anak yang melupakan orang tuanya. Atau, seorang mandataris suatu negara yang lupa terhadap rakyatnya selaku pemberi mandat. Atau, sebuah yang jatuh lalu hancur karena lepas dari porosnya. Nisyanullah, yakni lupa kepada Allah mengakibatkan lupa diri. Lupa bahwa dirinya adalah seorang mukmin, seorang kader da’wah, bahkan seorang murabbi, lupa bahwa dirinya adalah seorang suami dan seorang bapak dari sejumlah anak yang mendambakan sentuhan kehalusan dan kasih sayang. Kemudian melakukan pelbagai penyimpangan (kefasikan) yang berakhir dengan kerugian dan kehancuran. Allah SWT mengingatkan agar manusia jangan pernah sesaat pun lepas dari-Nya dan lupa terhadap-Nya karena akibatnya akan fatal. “Dan janganlah kamu sekalian seperti orang-orang yang lupa terhadap Allah sehingga karenanya mereka lupa terhadap diri mereka sendiri, mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS 59:19). Disaat manusia lupa diri akibat lupa terhadap Allah SWT tapi Allah tetap mengontrol dan menatapnya dimanapun dan kapan saja. “Dan Dia tetap bersamamu (mengawasimu) dimanapun kamu berada dan Allah maha menatap apa yang kamu kerjakan.” (QS 57:4)

Ikhwan dan akhwat fillah…

Jika kita selalu bersama Allah menghadirkan-Nya saat kita berfikir, berkarsa dan berkarya bahkan saat kita marah sekalipun, maka Dia niscaya menyertai kita dengan bimbingan-Nya, lindungan-Nya, pertolongan-Nya, rahmat-Nya dan ampunan-Nya saat kita salah. Ma’iyatullah telah diberikan kepada kepada Rasul-Nya SAW dalam situasi yang sulit. Tetapi bukan secara gratis tanpa investasi ‘amal jihadi’. Adalah Siti Khodijah ra sebagai saksi atas kepatutan ma’iyatullah untuk Rasul-Nya. Sebagaimana penuturannya, “Demi Allah, Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan engkau, sebab engkau gemar bersilaturahmi, suka menolong orang lemah, membela orang yang dizhalimi, menyantuni orang tak punya, serta tampil membela kebenaran”. Sebuah hadist Qudsi riwayat Syaikhani menyebutkan bahwa Allah berfirman: “Tidak ada amal hamba-Ku yang lebih aku sukai kecuali menjalankan apa-apa yang telah aku perintahkan. Dan ketika hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku sudah mencintainya maka Aku yang menjadi (menjaga) telinganya yang dengan telinga itu ia mendengar, Aku menjadi matanya yang dengan mata itu ia melihat, Aku menjadi tangannya yang dengannya ia memukul dan Aku menjadi kakinya yang dengannya ia melangkah. Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal niscaya Aku mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekat lagi kepada-Ku sehasta niscaya Aku mendekat kepadanya sedepa dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku akan datang kepadanya sambil berlari”.

Tidak ada imajinasi yang paling baik dan indah daripada memikirkan ciptaan Allah SWT dan ayat-ayat-Nya. Tidak ada kata yang lebih indah dari menyebut asma Allah SWT, laa ilaaha illallah, subhanallah atau astaghfirullah. Tidak ada nama yang lebih baik dari Abdullah. Tidak ada sumber kekuatan dan energi yang lebih dahsyat daripada laa haula wala quwwata illa billah.

Ikhwatil iman rahimakumullah…

Kesertaan (ma’iyyah) Allah SWT menuntut kita terlebih dahulu memposisikan diri secara tepat. Bukan semata-mata sebagai makhluk Allah SWT, tetapi sabagai hamba bahkan junud (prajurit-Nya) yang bersiap dan sigap untuk melaksakan setiap perintah-Nya dalam kerangka mewujudkan Islam kaaffah dalam kehidupan pribadi, keluarga, kemasyaraktan, kebangsaan dan antar bangsa. Jika bukan sebagai prajurit Allah SWT maka posisi manusia -disadari atau tidak- adalah sebagai prajurit iblis (junudu iblis). Kita harus memposisikan diri sebagai prajurit Allah SWT disetiap lini kehidupn dan setiap jengkal dari bumi Allah ini. Insya Allah Dia akan menyerahkannya kepada hamba-Nya yang shaleh sebagai bagian dari hasil perjuangan, melalui istikhlaf dan tamkin sebagai mekanisme legal dalam agam Allah. Kita harus memastikan bahwa komunitas kita adalah hizbullah. Sebab, hanya komunitas inilah yang pantas diberikan kemenangan sejati oleh-Nya. Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Bana pernah mengajukan suatu pertanyaan besar, “Apa modal kita untuk meraih kemenangan agama ini? Jawabannya adalah modal dan bekal yang sama yang pernah dimiliki as-salafus shalih dibawah pimpinan Muhammad SAW, yaitu lima segi keimanan yang meliputi:

1. Kemenangan itu akan diraih sebagai hadiah dari Allah SWT dengan all-out membela agama-Nya.
2. Kemenangan itu dapat diraih melalui keampuhan minhaj islam yang kita anut.
3. Kemenangan itu dapat diraih dengan kekuatan ukhuwah yang kita kuduskan.
4. Kemanangan itu merupakan buah keyakinan kita akan besarnya imbalan serta pahala perjuangan dijalan Allah SWT.
5. Keimanan bahwa kita telah memiliki jama’ah yang tepat sesuai kodratnya untuk menyelamatkan dunia.

Kita kokohkan keimanan tentang kelima prinsip tersebut dengan kesabaran dalam berjama’ah yang berusaha merealisasikan minhajun nubuwwah, jalan yang ditempuh Rasulullah SAW dan sahabat beliau dalam kesolidan ukhuwah demi membela dienullah. Kita harus berbuat yang ihsan dalam kerangka ‘amal jama’i, bukan asal berbuat apalagi saling mengandalkan. Sesudah itu, kita bertawakal kepada Allah SWT dan menyerahkan kepada-Nya untuk menentukan saat dan bentuk hasil perjuangan yang akan dicapai/diberikan. Sebab, Allah SWT beserta orang-orang yang sabar. Dia bersama orang-orang yang berbuat ihsan. Dan Dia mencintai orang-orang yang betawakkal kepada-Nya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

___
Serial Ri’ayah Ma’nawiyah
Sumber: Dari milis Ukhuwah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: