Uji Ketahanan

BTM3 Unimed – Ikhwah fillah, kita sudah sama-sama mengetahui bahwa hidup ini penuh dengan cobaan dan ujian. Apalagi bagi seorang muslim yang mengaku dirinya aktivis dakwah, maka tidak terelakkan lagi, jalan yang penuh dengan o­nak dan duri akan dia lalui. Ada kalimat yang paling dihapal oleh para da’i, yaitu: “Jalan da’wah bukanlah jalan yang ditaburi bunga dan wewangian. Jalan da’wah adalah jalan yang penuh o­nak dan duri; penuh tantangan dan cobaan; penuh fitnah dan ujian.” Tapi ironisnya, kalimat ini kadang terlupakan, bahkan seolah-olah kita tidak pernah mendengar ataupun membacanya.

Mari sejenak kita ikuti sebuah kisah nyata yang diabadikan oleh Allah SWT. Kisah yang tertuang dalam Al Qur?an surat Al A?raf ayat 163-168 ini menggambarkan sebuah kisah tentang Ash Habus Sabt.

“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik”. (QS. Al A?raf: 163).

Ayat ini menceritakan tentang sebuah desa orang-orang Yahudi yang terletak di pesisir lautan. Mereka diperintahkan Allah untuk tidak berburu dan menangkap ikan pada hari Sabtu, dan mereka dibolehkan untuk menangkapnya pada hari-hari lain selain Sabtu. Namun yang terjadi adalah, ternyata ikan-ikan itu justru banyak ketika hari Sabtu, sedangkan ketika hari yang lain, jarang terdapat ikan. Sesungguhnya ini hanyalah ujian yang diberikan Allah kepada mereka. Dan ternyata mereka tidak “lolos” dalam menghadapi ujian ini. Dengan segala akal bulusnya, mereka melanggar larangan Allah tersebut. Setan menunjukkan alibi, cara tipu daya, serta membimbing mereka kiat agar dapat menangkap ikan pada hari Sabtu. Akibat pelanggaran tersebut, mereka dikutuk oleh Allah SWT, dirubah menjadi kera yang hina (silakan buka QS. Al A?raf : 166).

Ikhwah Fillah, dengan mengkaji ayat di atas, maka kita dapat mengambil ibrohnya. Yaitu bahwa Allah juga akan memberikan ujian justru pada suatu titik lemah. Pada kisah di atas, orang-orang Yahudi mempunyai titik lemah, yaitu mereka memiliki keinginan memancing ikan ketika banyak terdapat ikan di perairan, namun Allah justru melarangnya. Dan orang-orang Yahudi ? sesuai dengan tabiat mereka ? melanggar larangan Allah tersebut dengan segala alibinya. Mereka gagal dalam menghadapi ujian Allah tersebut, mereka adalah kaum yang tidak tahan uji.

Berbeda sekali dengan kaum muslimin ketika diuji oleh Allah. Misalnya dalam masalah haji, Allah melarang umat Islam untuk berburu ketika mereka sedang berihram, meskipun binatang buruan itu berada dekat sekali dari mereka dan dapat mudah dijangkau dengan tangan dan tombak mereka.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah di dapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang-orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barangsiapa melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih.” (QS. Al Maidah: 94)

Bayangkan, ketika binatang buruan sangat dekat dengan kita dan mudah ditangkap, namun Allah melarang untuk memburunya. Kaum muslimin berhasil melewati ujian ini, padahal ini adalah “titik lemah”. Allah mengadakan ujian ini agar Dia mengetahui siapa yang takut kepada-Nya meskipun orang itu tidak melihat-Nya.

Kadangkala ketika seorang muslim yang mempunyai toko, pada saat detik-detik terakhir sebelum mulai sholat jum?at, mereka diuji oleh Allah SWT dengan mendatangkan seorang atau beberapa yang ingin membeli sesuatu di tokonya. Padahal waktu sholat Jum?at sudah sedikit lagi dimulai dan toko harus tutup.

Atau di saat lain, ketika kita ingin pergi menghadiri pertemuan dengan para ikhwah, namun ada saja halangannya. Di pertemuan pertama, ketika ingin berangkat, turunlah hujan, dan dalam perasaannya berkata, “ah hujan, jauh lagi.” Sehingga ikhwah ini mengurungkan niatnya. Setelah itu ikhwah ini bertekad dipertemuan selanjutnya ia harus datang. Namun ketika ingin berangkat lagi, ternyata datang orang tuanya dari jauh, ah.. orang tua yang melahirkannya, harus dia temani. Akhirnya dia tidak datang lagi. Dia bertekad lagi, harus datang bagaimanapun juga. Di pertemuan selanjutnya, istri minta ditemani, sehingga batal lagi. Begitu seterusnya, sehingga kita temui bahwa ikhwah model seperti ini tidak memiliki komitmen dan keteguhan hati.

Atau dalam keorganisasian, disaat akhir kepengurusan, disaat itulah justru ujian akan bertambah. Perasaan malas, jenuh, bosan, adalah sebagian dari ujian. Atau dalam kepanitiaan, ketika dalam keadaan penuh ketegangan dan full deadline, maka biasanya kita lupa dengan norma dan aturan main yang sudah disepakati. Perkataan “tuh kaan, ane bilang juga apa..” akan timbul, padahal kita sudah pahami bahwa perkataan tersebut adalah bagian dari “tidak menghargai syura”. Lidah yang tidak bertulang akan selalu “bernyanyi” diluar forum syura, sehingga biasanya tanpa sadar akan berkembang “bunga” buruk sangka. Padahal kita tahu bahwa ada forum syuro yang berfungsi untuk memecahkan masalah, tempatnya lidah “bernyanyi”. Itulah beberapa kelemahan kita. Dikala kita sampai pada titik lemah, disaat itulah kita lupa. Sehingga kita tanpa sadar “melanggar” berbuat melebihi batas.

Ikhwan dan akhwat yang dicintai Allah, Allah menginginkan manusia untuk berjihad terhadap dirinya sendiri dengan mengatur dan mengendalikannya, menahan emosinya, serta memutuskan dirinya dari pengaruh syahwat dan berbagai rangsangannya. Dengan demikian, ia dapat mengatasi syahwatnya, menguasai kelemahannya, menumbuhkan nilai-nilai kebaikan pada dirinya, serta menjadi orang-orang yang pantas mendapatkan kemuliaan Allah dan masuk ke dalam Jannah-Nya. Allah berfirman,

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu”. (QS. Muhammad: 31)

Semoga kita dapat mengatasi kelemahan kita semua, dan dapat melewati proses uji ketahanan di detik-detik terakhir kepengurusan ini. Jangan seperti orang-orang Yahudi yang telah dikutuk menjadi kera yang hina akibat kelalaian mereka. (kadri btm3)

Wallahua’lam bishowab. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: