Tidak Ada Udzur

BTM3 Unimed – Sebelum bergerak ke Tabuk, Rasulullah menemui Jad bin Qais, salah seorang Bani Salamah. Beliau berkata,

“Wahai Jad, bisakah kau selama setahun berada di kabilah Jallad bin Ashfar?”

“Ya Rasulullah, izinkanlah aku dan janganlah menfitnahku. Demi Allah, kaumku pun tahu bahwa tidak seorang pun yang lebih berat kekagumannya terhadap wanita melebihiku. Aku khawatir ketika melihat wanita Bani Ashfar, tidak bisa menahan diri demi melihat mereka.”

Rasulullah langsung berpaling darinya, “Aku izinkan kau.” Maka turunlah ayat Allah,

“Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (untuk tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.” Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah.” (QS. At Taubah: 49)

Ikhwah fillah, surat ini tergolong paling keras dalam mengecam orang-orang munafik, membeberkan watak mereka. Maka surat At Taubah ini juga dinamakan surat Fadhihah (kecaman). Sikap tersebut di atas merupakan karakter dasar orang munafik, yakni, meminta udzur dari aksi, aktivitas da’wah, dan jihad tanpa ada alasan syar’i.

Adapun sebab utama dari ini semua adalah:
1. Sifat pengecut, yang melahirkan ketakutan dalam menghadapi musuh dengan resiko, siksa, intimidasi, penjara, bahkan kadang-kadang kematian.
2. Tidak adanya kesiapan dalam memikul beban da’wah.
3. Kekhawatiran atas rizki, ia mengira bahwa dalam kesibukannya dengan urusan da’wah dan konsekuensinya, akan terbengkalai segala urusan dunia dan rizkinya, kesempatan bisnisnya, kuliahnya, dan sebagainya.
4. Khawatir kehilangan jabatan, ia mengira bahwa aktifitas Islamnya bisa membekukan jabatan dan pangkatnya.
5. Tidak adanya kesabaran untuk berpisah dengan istri nan cantik jelita, atau anak-anaknya.

Ini adalah sebagian dari sebab pokok di balik i’tidzar (pengambilan alasan). Bahkan mereka mengelak dengan berbagai macam alasan, agar tidak terbuka kedok mereka.

Mereka mengatakan sebagaimana yang disinyalir oleh ungkapan tadi, “Berilah saya keizinan dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah!”

Tidak diragukan lagi dan nampak jelas dari alasan ini adanya kecemasan terhadap fitnah wanita dan kecemasan atas keamanan. Akan tetapi pada hakikatnya tidaklah demikian, mereka beralasan karena kesibukan dalam bisnis dan urusan keluarga sebagaimana firman Allah,

“Orang-orang Badui tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: “Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami”.” (QS. Al Fath: 11).

Ikhwan akhwat yang dicintai Allah, Ustadz Muhamis Hasan Abdul Ghani, rahimahullah, mengomentari ayat ini, “Dalih yang digunakan oleh sebagian orang Arab (Badui) bahwa mereka sibuk dengan harta dan keluarga mereka dari jihad di jalan Allah. Kami dirintangi oleh harta dan anak-anak kami maka mohonkan ampunan untuk kami. Allah telah menyangkal hal ini bahwa yang sesungguhnya terjadi sama sekali bertolak belakang. Dalih semacam ini sungguh aneh dan janggal. Bagaimana mereka banyak melibatkan diri dalam urusan seperti itu? Bukankah bagi kaum Muslimin semua juga ada istri dan anak? Bukankah semuanya juga perlu mencari rizki untuk mencukupi kebutuhannya, istri, dan anaknya? (Atau, bukankah semua mahasiswa juga perlu untuk kuliah, ujian, dan belajar?) Ya, setiap orang pasti sibuk dengan urusannya! Apakah dengan demikian tidak ada lagi da’wah dan jihad? Apakah akibat dari itu semua tidak ada lagi perjuangan?! Tidak ada pengorbanan?”

Di antara kerancuan i’tidzar mereka adalah mereka menjaga rumah dari pencuri ketika ditinggalkan keluar, istri dan anak-anak di rumah, atau istri sendiri tanpa anak, siapa yang menjaganya? Padahal Allah mengetahui bahwa bukan demikian alasan yang sesungguhnya. Disebutkan dalam surat Al Ahzab,

“Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).” Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari.” (QS. Al Ahzab: 13)

Ikhwah fillah, i’tidzar dari keterlibatan dalam da’wah dan jihad serta segala aktivitas amar ma’ruf nahi munkar, atau aktivitas tarbiyah dalam membimbing masyarakat kepada Islam, hidayah serta nilai-nilainya, biasanya merupakan indikasi dari kemandegan serta keinginan untuk menghindari dari tugas.

Ketika seseorang mulai kendor semangatnya, nampaklah beberapa gejala. Di antaranya ia menghindar dari tuntutan da’wah dan menjauhi segala aktivitasnya. Banyaknya i’tidzar lama-kelamanaan menjadi wataknya. Hal ini diakibatkan oleh kecenderungannya pada masalah dunia dan memprioritaskannya di atas urusan agama.

Terjadilah pergolakan dalam dirinya, antara beban da’wah dan kepuasan nafsunya. Dia menyimpulkan bahwa alternatif terbaik dari konflik batin ini adalah pemisahan antara keterlibatannya dalam da’wah, tubuh, dengan perasaan nafsunya. Mulailah ia menjauhi organisasi da’wah yang diawali dengan banyaknya i’tidzar. Ia tidak kuasa untuk menyatakannya secara terang-terangan. Maka terjerumuslah dia dalam kemunafikan.

Inilah satu aspek i’tidzar yang pada gilirannya mengakibatkan kemandegan dalam da’wah. I’tidzar yang dilakukannya semakin rutin dan aktif hari demi hari.

Ada jenis lain dari i’tidzar yang bersifat kondisional. Ini diakibatkan oleh kelemahan sesaat, kemudian kembali dengan semangat tinggi setelah menyadari kekeliruannya, namun tipe ini tidak termasuk pada i’tidzar yang sesungguhnya.

Ikhwah fillah, semoga kita semua dimasukkan oleh Allah ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa istiqomah, siap berkorban untuk da’wah dan jihad, senantiasa berani mengatakan yang haq kepada penguasa zalim, tanpa udzur yang mengada-ada.(btm3)

Adopsi dari : “Waqafat Tarbawiyyah Fii Assiratin Nabawiyyah” – Abdul Hamid Jasim Al Bilali – dengan beberapa perubahan dan tambahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: