Ikhlashlah dalam Berda’wah

BTM3 Unimed – Ikhwah fillah, titik akhir dari perjuangan kita adalah mati syahid di jalan Allah, kematian yang mulia di sisi Allah, syahid fi sabilillah. Menjadi seorang syuhada adalah impian semua pejuang di jalan Allah. Ada yang sudah menunaikannya, ada pula yang masih menunggu gilirannya.

“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)..” (QS. Al Ahzab: 23)

Untuk mencapai cita-cita tertinggi kita itu bukan jalan yang mudah. Jalan untuk mencapainya penuh dengan o­nak dan duri. Segala tantangan dan cobaan senantiasa muncul, baik dari diri kita maupun dari luar. Untuk itu dibutuhkan kebersihan hati dan keikhlashan. Bila kita menemukan seorang aktivis yang tidak ikhlash, lepaskan dia dari barisan kita. Karena hanya akan membuat barisan ini menjadi tidak rapi.

Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan mengenai 4 sikap yang terpuji tapi susah dilakukan. Keempat sikap itu adalah:

1. Memberi maaf ketika kita sedang marah.

2. Bersikap dermawan pada saat-saat krisis.

3. Menjaga diri dari perbuatan dosa ketika tidak ada orang lain (yang melihat kita).

4. Mengatakan yang haq kepada orang yang kita harapkan kebaikan darinya atau orang yang kita takuti.

Keempat sikap di atas memang sulit untuk dilakukan, tapi tidak akan sulit apabila pelakunya ikhlash. Karena orang-orang yang tidak ikhlash, mereka sebenarnya sedang tergelincir, tergelincir mengikuti hawa nafsu. Salafush sholeh mengatakan bahwa menundukkan hawa nafsu itu sebenarnya indah, sedangkan mengikuti hawa nafsu itulah yang sebenarnya tidak indah.

Ikhwah fillah, janganlah kita menjadi seperti orang yang seperti ini: dia sudah bertahun-tahun terlibat dalam da’wah dan tarbiyah, namun tidak ada pengaruh positif bagi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Orang ini pasif, ada atau tidak-ada-nya dia tidak berpengaruh. Dia tidak memberi dukungan terhadap aktivitas da’wah. Tidak tampak perbaikan positif padanya. Dia tidak memperhatikan unsur ketidakhadirannya dalam aktivitas da’wah. Dan dia tidak menyampaikan udzur bila menolak amanah da’wah.

Jadilah kita al Akh yang ikhlash dalam berda’wah. Berani menempuh perjalanan panjang, perjalanan yang pernah ditempuh oleh Rasul dan para sahabatnya, perjalanan yang penuh dengan o­nak dan duri, untuk menggapai ridho Illahi. Dan memiliki cita-cita tertinggi, yaitu mati syahid fisabilillah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: