Hijrah: Kilas Balik Kemenangan Dakwah

BTM3 Unimed o­nline – Medan, Hijrah dalam pengertiannya yang luas adalah bagian dari perencanaan strategis (Strategic Plan) dalam berdakwah. Hijrah adalah upaya untuk meminimalisasi mudharat dan memaksimalkan maslahat, baik dalam konteks fardiyyan maupun jama’iyyan. Hijrah juga merupakan satu terobosan untuk mendapatkan suaka atau himayah, baik himayatul aqidah maupun himayatud da’wah wassiasah.

Himayatulah aqidah adalah bentuk perlindungan dan jaminan terhadap keimanan dan akhlaq kaum muslimin, baik secara individu maupun komunal. Sedangkan himayatud da’wah wassiasah adalah jaminan bahwa dakwah Islam dengan pengertiannya yang luas, baik dalam kebijakan ekonomi maupun politik, tidak mendapatkan gangguan, rintangan, maupun hambatan. Bahkan sebaliknya justru mendapatkan fasilitas dan daya dukung massa baik dukungan yang bersifat moral maupun material. Kedua himayah tersebut di atas merupakan syarat mutlak bagi kemenangan dakwah, salah satunya tidak terpenuhi maka kemenangan dakwah menjadi sulit untuk diprediksi. Oleh sebab itu Rasulullah tidak menindaklanjuti proyek hijrah ke Habasyah dan tidak membidik Habasyah sebagai tempat hijrah yang permanen dan kondusif, karena Habasyah hanya memberikan himayatul aqidah kepada kaum muslimin yang hijrah ke sana, sementara gerak dakwah dan manuver politik mereka tetap terjepit oleh represif birokrasi dan pemerintahan Habasyah yang secara terang-terangan menolak Islam. Masuk Islamnya Najasyi sebagai Raja Habasyah tidak banyak membantu prospek da’wah dan siasah di Negeri Habasyah.

Dakwah dalam proses pertumbuhan dan perkembangan selalu mengacu pada dinamika hijrah, yaitu perubahan dari satu kondisi kepada kondisi lainnya yang menyebabkan gerakan dakwah harus mengubah alur stragegi agar lebih efisien dan efektif. Oleh karenanya Hijrah harus dimaknai sebagai sebuah kecenderungan perubahan yang positif dan progressif, dengan sekian langkah maju ke depan bukan langkah surut ke belakang. Ada’watu dzat marahil, dakwah selalu bertumpu pada logika hijrah tahapan-tahapan yang bersifat situasional. Dalam konteks dakwah kita, banyak marhalah yang telah kita lalui, setiap marhalah mengacu kepada putaran (Mihwar) fokus amal dakwah yang disesuaikan dengan target dan capaian dakwah di setiap marhalah. Mihwar yang paling pertama dalam dakwah di negeri kita adalah mihwar Tandzimi, yaitu putaran pertama dengan terbentunya tandzhim dakwah di negeri ini. Putaran pertama ini, menfokuskan amal dakwahnya pada amal Nukhbawy, yaitu periode pengkaderan aktivis dakwah melalui daurah-daurah yang ditindaklanjuti dengan pembentukan halaqoh-halaqoh. Ketika kader-kader dakwah sudah mulai signifikan jumlahnya, banyak di antara mereka yang mengembangkan dakwah ini melalui lembaga-lembaga formal, baik Masjid, Ma’had, dan Yayasan-yayasan dakwah dan pendidikan, maka mihwar Nukhbawy secara perlahan beralih kepada Mikhwar Sya’by. Mihwar Sya’by adalah periode di mana kita sebagai aktifis dakwah dianjurkan untuk melakukan hubungan kemasyarakatan (alaqoh ijtima’iyah) yang lebih intensif, baik dalam skala fardiyan dengan silaturahmi, maupun jama’iyan dengan bakti sosial (amal khidamy).

Mikhwar sya’by juga merupakan siklus perjalanan dakwah yang mengarah pada perolehan kredibilitas sosial (Misdaqiah Ijtima’iyah), semakin tinggi kredibilitas sosial yang diperoleh maka semakin luas ruang akseptibilitasnya di tengah-tengah masyarakat. Ketika dakwah semakin diterima kehadirannya di tengah-tenah masyarakat maka langkah kepada mihwar berikutnya semakin terbuka lebar. Oleh karena itu berkat inayah dan ri’ayah Allah SWT kita sekarang memasuki Mihwar Mu’assaasy, siklus di mana kita bergerak dengan paradigma dakwah yang lebih luas dan kompleks. Di sinilah isti’ab kita, baik isti’ab tandzhimi, ma’nawy, dan nadzhory, semakin dibutuhkan. Kedewasaan kita dalam mensikapi hal-hal yang bersifat Asholah dan Tathwir, serta hal-hal yang bersifat tsawabit dan mutaghayyirat.

MIHWAR MUA’SSASY

Hijrah Rasulullah saw ke Madinah dapat diartikan sebagai awal dari Mihwar Muassasy, setelah sebelumnya Rasulullah berhasil melewati mihwar Sya’by dengan mengutus Mus’ab bin Umair dalam program bi’tsaatuddu’atnya ke Yatsrib. Berkat usaha dan jerih payah Mus’ab lah, hampir seluruh penduduk Yatsrib, baik kalangan orang tua, pemuda, maupun anak-anak mulai akrab dengan Islam dan menjadi pemeluk-pemeluknya yang bertaqwa kepada Allah SWT. Mihwar Mu’assasy yang diawali dengan sampainya Rasulullah di Yatsrib, semakin kokoh. Solid dan kondusif. Ada tiga faktor yang menyebabkan hijrah Nabi menjadi kilas balik kemenangan dakwah, setelah sekian tahun mendapatkan perlakuan yang represif dari rezim penguasa Mekah. Ketiga faktor di bawah ini juga dapat kita jadikan sebagai tolak ukur kesuksesan dan kemenangan dakwah kita di era mihwar mu’assasy yang tengah kita lewati saat ini.

Pertama, memperkokoh basis Masjid untuk sarana ibadah dalam rangka memperkuat hubungan vertikal kepada Allah, dan sarana mu’amalah untuk merekat hubungan horizontal. Masjid pada Mihwar Mu’assasy hendaknya tidak hanya berfungsi sebagai Markazul Ibadah tetapi juga sebagai Markazul Qiyadah. Oleh karenanya kita sebagai aktivis dakwah hendaknya menunjukkan partisipasi dan keteladanan yang maksimal dalam program Ta’mir Masjid, sehingga pada gilirannya (nanti) kita mendapat kepercayaan dari jamaah masjid untuk menjadi pimpinan dan pengelola masjid. Di sinilah kita dapat memainkan peran untuk meningkatkan syi’ar dan pengembangan dakwah ke arah yang lebih kaffah dan komprehensif.

Kedua, menjalin hubungan erat dan dekat dengan seluruh lapisan masyarakat, khususnya masyarakat Islam, dengan berbagai latar belakang baik kultur, tradisi, mahzhab fiqhiyah, keormasan, kepartaian, dan lain sebagainya. Posisikanlah mereka sebagai partner bukan rival. Di sinilah kita dituntut untuk bersikap luwes dalam menghadapi realitas masyarakat dengan tetap menjaga sikap kritis kita secara proporsional. Sikap kritis hendaknya kita tunjukkan bila prilaku masyarakat terkait dengan masalah ushul (aqidah-akhlaq) dengan nash yang sharih (tegas) baik al Qur’an maupun sunnah dan telah menjadi kesepakatan di kalangan jumhur ulama (muttafaq ‘alaih). Sebaliknya kita jangan malas-malas bersikap toleran (Lazy Tolerance) terhadap hal-hal yang bersifat mukhtalaf fiih atau furu’ mu’tabarah (tata cara beribadah yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan istidlalnya) yang terjadi karena pendekatan pemahaman dan penafsiran yang berbeda terhadap satu nash Al Qur’an maupun as sunnah, seperti tata cara sholat, dzikir, dan sebagainya. Sikap kaku, fanatik furu’iyyah, dan merasa benar mutlak dalam hal-hal yang mukhtalaf fiih, hanya akan membuat kita semakin tidak dapat berbaur dengan masyarakat, semakin sulit bagi kita untuk mengharapkan dukungan dan kepercayaan mereka terhadap dakwah kita, sehingga kemenangan pun semakin tertunda. Wal i’adzu billah.

Ketiga, bersikap akomodatif terhadap elemen dan komunitas non muslim, dengan menampakan citra keIslaman yang lembut dan penuh kasih sayang. Berusaha untuk selalu mencari titik temu konseptual kesepakatan bersama dalam menciptakan keamanan dan mewujudkan kesejahteraan kolektif. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara kita harus bersikap arif, dewasa, demokrat, dan siap duduk bersama dalam menyumbangkan kontribusi pemikiran, dengan tetap mengacu pada spirit dan prinsip-prinsip keIslaman. Di sinilah dakwah tampil dengan wajah perjuangan yang menuntut kita bersikap lebih elegan dan penuh rasa percaya diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: