Saintek Dalam Islam

BTM3 Unimed – Allah SWT menurunkan ayat-ayat (tanda kekuasaan)-Nya melalui jalur formal yaitu ayat qouliyah dan jalur non-formal yaitu ayat kauniyah. Ayat qouliyah adalah kalam Allah (Al Qur’an) yang diturunkan secara formal kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan ayat kauniyah adalah fenomena alam, jalurnya tidak formal dan manusia mengeksplorasi sendiri.

Eksplorasi terhadap ayat kauniyah inilah yang kita kenal sebagai sains, yang kemudian dalam aplikasinya disebut teknologi.

Sains dan teknologi (saintek) ini adalah implementasi dari tugas manusia sebagai khalifah fil ardh untuk memakmurkan bumi. Karenanya bagi seorang muslim, saintek adalah sarana hidup untuk mengelola bumi, bukan membuat kerusakan.

Paradigma seorang muslim terhadap ayat-ayat Allah ini, baik ayat qouliyah (Al Qur’an) maupun kauniyah (fenomena alam) adalah mutlak benar dan tidak mungkin bertentangan, karena keduanya berasal dari Allah.

Pada faktanya sains yang telah ‘proven’ (qath’i) selaras dengan Al Qur’an seperti tentang peredaran bintang, matahari dan bumi pada orbitnya. Namun sains yang masih dzanni (teori) kadang bertentangan dengan yang termaktub dalam Al Qur’an seperti teori evolusi pada manusia.

MAKNA SAINTIS YANG BERAKAL

Saintis muslim bukan berhenti pada observasi dan menjelaskan fenomena alam, namun mesti mencapai level orang yang berakal/ulil albab (QS Ali Imron 190-191).

Akal berbeda dengan kecerdasan otak. Hewan pun mempunyai kecerdasan, namun tidak mempunyai akal. Karenanya orang yang tidak menggunakan akal
diumpamakan binatang ternak (QS Al A’raf 179). Manusia yang tidak menggunakan akal dianggap sebagai “binatang yang cerdas”.

Akal adalah kerja qalbu yang berada dalam dada (sebagaimana disebutkan dalam QS Al Hajj ayat 46), merupakan kemampuan untuk mengambil pelajaran.

Kata ulil albab biasa disebut dalam Al Qur’an setelah pemaparan fenomena alam, untuk menunjukkan orang yang bisa mengambil pelajaran. Kata yafqohuun (memahami), ya’qiluun (menggunakan akal) dalam Al Qur’an dinisbatkan pada qalbu (QS 22:46, 7:179).

***22:46***
“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai qalbu yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah qalbu yang di dalam dada.”

Ayat di atas didahului dengan ayat tentang pemaparan fenomena kaum-kaum yang diadzab.

Berkaca dari makna akal dalam Al Qur’an ini, maka semestinya penemu disket, penemu memori jika barakal maka akan sampai pada keyakinan tentang akhirat, tentang kesaksian dan pencatatan amal-amal manusia, dan hari pembalasan.

SAINTIS DALAM SEJARAH ISLAM

Dalam sejarah peradaban Islam, para ilmuwan adalah juga ahli dalam agama karena memahami kedudukan saintek dalam Islam. Mereka belajar ayat qouliyah dan juga belajar ayat kauniyah.

Kontribusi ilmu pengetahuan para ilmuwan muslim menjadi tonggak kemajuan iptek di barat. Dalam bidang matematika ada algorithm, algebra yang merupakan nama matematikawan muslim (Alkhawarizm, Aljabar). Juga angka Arab yang dengannya perhitungan menjadi mudah. Dalam bidang kimia ada istilah alkemi (chemistry), alkali, alkohol dsb. Nama-nama ilmuwan muslim spt Ibnu Sina (Avicena), Ibnu Rusyd (Averous), Ibnu Khaldun dsb menjadi nama yang gemilang.

Bidang-bidang yang sangat gemilang pada masa kejayaan peradaban Islam adalah kedokteran, matematika, dan astronomi, karena menjadi kebutuhan langsung spt menentukan kiblat dan waktu-waktu ibadah.

Allahu a’lam.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: