Petunjuk Komunikasi, Dialog dan Debat

BTM3 Unimed – Misscommunication yang sering terjadi, bukan tak mungkin dapat menimbulkan perpecahan. Lalu bagaimanakah cara berkomunikasi yang baik dan benar agar suasana ukhuwah senantiasa terjaga ? Berikut ini adalah beberapa petunjuk komunikasi, dialog dan debat di dalam Islam.

Islam agama sempurna, mengatur segala aspek kehidupan. Salah satu hal yang penting dalam hidup ini adalah berlangsungnya komunikasi sesama manusia dengan baik. Islam mengatur itu pula, maka dalam kesempatan ini akan dikemukakan petunjuk berkomunikasi, dialog, debat, wawancara, adu argumentasi ataupun tukar pikiran secara Islami. Tulisan singkat ini insya Allah bisa dipegangi sebagai petunjuk dalam berkomunikasi secara umum, bahkan bisa digunakan dalam hal-hal khusus misalnya berwawancara secara langsung ataupun dalam acara-acara tertentu.

Berkomunikasi secara umum atau berdialog pun diberi bimbingan oleh Al-Quran, karena teori berdialog itu merupakan salah satu sarana da’wah untuk menyampaikan kebenaran.

Petunjuk dari Al Qur’an
Ada nash-nash (teks) Al-Quran yang menuntun tentang dialog di antaranya sebagai berikut: ” .dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (Al-Baqarah: 83).

“..dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125).

“Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)’.”
(Al-Isra’: 53).

“Maka berbicaralah kamu berdua (Musa dan Harun ) kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaahaa: 44).

“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbu-atan dan perkataan) yang tiada berguna.” (Al-Mukminun: 3).

“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik.” (Al-Mukminun:: 96).

Dalil dari Hadits
Nabi Muhammad saw memberi petunjuk bagaimana berdialog dan berkomunikasi yang baik. Di antaranya:

“Permudahlah dan jangan kalian persulit, dan gembirakanlah dan jangan kalian buat mereka lari.” (Muttafaq ‘alaih).

“Perkataan yang baik itu adalah sedekah.” (Muttafaq ‘alaih).

“Bukanlah orang kuat itu karena kuat gulat, tetapi orang yang kuat itu yang menguasai diri/nafsunya ketika marah.” (Muttafaq ‘alaih).

“Senyummu terhadap wajah saudaramu itu adalah sedekah.” (At-Tirmidzi, hasan gharib).

“Hikmah itu adalah harta mukmin yang hilang, di mana saja dia menemukannya maka dialah manusia yang paling berhak dengannya.” (At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, hasan).

“Sesungguhnya Allah itu Maha Lemah Lembut mencintai kelembutan, dan memberi atas orang yang lemah lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang keras, dan sesuatu yang tidak diberikan atas lainnya.” (Muslim).

Menuntut Kebenaran
Sebagai Muslim tidak dibenarkan mengingkari kebenaran, bahkan menyembunyikannya pun tidak boleh. Sebab mengingkari kebenaran dan menyembunyikannya itu di samping dilarang dalam Islam, masih pula meniru sikap Ahli Kitab. Allah berfirman, artinya: “Dan sesungguhnya sebagian dari mereka (Yahudi dan Nasrani) menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 146).

Adapun orang Muslim yang benar adalah yang menuju pada kebenaran danmenghindari diri dari tipuan. Cita-citanya adalah tercapainya kebenaran, baik itu ditangannya ataupun di tangan lawan bicaranya. Hingga seorang perempuan pun menolak perkataan Umar bin Khatthab seputar pembatasan mahar dalam khutbahnya di hadapan para pemuka mayarakat. Lalu Umar berkata: “Benarlah seorang perempuan dan telah salah lah Umar.” (Dikeluarkan oleh al-Baihaqi 7/233). Riwayat ini dha’if, tetapi mengenai pentingnya tunduk pada kebenaran adalah tidak perlu diragukan lagi.

Perlu Dalil
Setiap hal yang dikemukakan memerlukan penjelasan, bukti dan dalil, bukan hanya sekadar omongan. Demikian pula dalam hal membantahnya, perlu dalil pula. Dalil itu syaratnya: harus shahih (benar) tidak boleh bohong, dan tak boleh menukil dari sumber yang tidak tsiqah (tidak terpercaya), hatta untuk mendukung perkataan yang sudah benar.

Mulailah mengemukakan dalil itu dengan yang paling kuat, kemudian yang kuat,lalu kemukakan tesa dan anti tesanya, dan jangan membantah dalil kuat dengan dalil yang lemah.

Hindari memaksakan dalil sesuai ambisi/nafsu atau yang dikenal dengan “mendalili kepentingan” seperti yang dilakukan oleh kaum sesat. Allah mperingatkan masalah itu, artinya: “Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” (Al-Baqarah: 87).

Mereka itu menerima perkataan kalau sesuai dengan keinginan mereka, dan menolaknya kalau tak sesuai dengan ambisi mereka.

Katakan Aku Tidak Tahu
Tiap orang yang berdialog, lebih-lebih pelajar perlu memperhatikan bahwa termasuk sikap ikhlas dan takut pada Allah adalah mengucapkan “aku tidak tahu” dalam hal yang ia tak tahu. Atau minta waktu untuk mengkajinya lebihdulu.

Diriwayatkan dari Imam Malik bahwa ia ditanya tentang 48 masalah, lalu ia jawab yang 32 masalah dengan kata-kata: “Laa adrii”, aku tidak tahu. Apabila Anda berdialog maka jangan malu minta penjelasan hal yang samar dan menanyakan hal yang tak diketahui, karena kalau anda diam maka justru akan mempersulit anda sendiri nantinya.

Jauhi Marah
Marah-marah itu sifat yang tercela, yang mengakibatkan orang lain tak suka,tak simpati , hingga orang-orang akan menjauhi si pemarah. Suatu ketika datang seorang laki-laki kepada Nabi saw lalu ia berkata: “Nasihatilah saya”. Nabi bersabda: “Jangan marah.” Beliau ulangi berkali-kali. (Hadits Riwayat al-Bukhari).

Marah itu tidak membawa kepuasan dan petunjuk dalam pertukaran pendapat.Kepuasan dan petunjuk Itu hanya bisa ditempuh dengan arif dan sabar, dua sifat mukmin yang baik untuk dijadikan gaya dialog. Terutama bila lawan dialogmu orang yang cepat marah, maka anda menghentikannya dengan ketenangan dan tuma’ninahmu.

Akui Kesalahan
Siapakah yang tak pernah bersalah, dan siapa yang ma’shum selain para nabi Allah dan rasul-rasulNya? Kesalahan itu adalah masalah thabi’i, alami. “Setiap Bani Adam itu pembuat kesalahan, dan sebaik-baik pembuat kesalahan adalah orang-orang yang sering bertaubat.” (At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ad-Darimi).

Menghormati Pihak Lain
Orang-orang memperlakukan Anda sesuai dengan perlakuan Anda terhadap mereka. Perhatikanlah pembicaraan mereka maka mereka akan memperhatikan pembicaraanmu. Bersikap merunduklah/ tawadhu’-lah kepada mereka maka mereka akan tawadhu’ padamu melebihi penghormatanmu pada mereka. Mulailah dengan pujian dan kemukakan hal-hal yang baik pada orang yang Anda ajak bicara, tapi jangan berlebihan lalu terjatuh dalam kebohongan dan kemunafikan, sebagaimana jangan sampai merendahkan diri keterlaluan sehingga jadi hina.

Menghormati pada setiap orang dengan batas-batas tertentu itu diajarkan,walaupun aqidah mereka berbeda. “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8).

Akhlaq umum yang sudah diatur dalam Islam mesti dipakai pula dalam berkomunikasi, berdialog, ataupun berdebat. Nabi saw telah memberi peringatan secara gamblang dan tegas: “Mencaci orang Islam itu fasiq (keluar dari ketaatan) dan membunuhnya adalah kufur.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, An-Nasai). Mudah-mudahan tulisan singkat ini bermanfaat. Amien.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: