Kisah Penyembelihan Sapi Betina

BTM3 Unimed – Asal-usul maka timbul perintah menyembelih lembu betina ialah karena terjadi suatu pembunuhan gelap, tidak terang siapa pembunuhnya. Maka untuk menghabiskan perselisihan yang bisa menimbulkan huruhara di antara satu suku dengan suku yang lain, atau satu kampung dengan kampung yang lain, Nabi Musa memerintahkan menyembelih seekor lembu betina.

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.”

Perintah itu sudah jelas menyembelih lembu betina. Dan kalau mereka tidak keras kepala, niscaya perintah itu dapat dilaksanakan sebentar itu juga. Sebab lembu betina itu banyak berkeliaran di padang rumput mereka. Tetapi mereka memandang enteng kepada pemimpin dan Rasul mereka.

“Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?”

Perintah itu telah mereka pandang sebagai mempermain-mainkan mereka saja. Mungkin hati mereka yang kesat itu berkata, kita sekarang ini tengah mencari penyelesaian pembunuhan, tahu-tahu lembu betina yang disuruh sembelih. Mendengar sambutan mereka yang demikian:

“Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.”

Dengan jawaban demikian, Musa telah menjelaskan bahwa dia tidak memberikan perintah main-main. Sebab menjatuhkan perintah hanya untuk bersenda gurau, bukanlah perbuatan orang yang berakal budi, melainkan perbuatan orang-orang yang bodoh. Apatah lagi dia adalah seorang Rasul Allah. Aku berlindung kepada Allah dari perangai demikian.

”Mereka menjawab: ” Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu.”

Lembu betina banyak berkeliaran di padang rumput. Kami mau jelas yang bagaimana macamnya lembu itu. Menjatuhkan perintah hendaklah yang terang! Cobalah tanyakan kembali kepada Tuhanmu itu, lembu betina macam mana dikehendaki.

“Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”

Kesombongan mereka dan cara mereka bertanya, sebenarnya telah mempersulit mereka sendiri. Dengan jawaban Nabi Musa yang demikian, menyuruh mencari lembu betina yang belum tua, tetapi tidak pula muda lagi, supaya dicari yang peretngahan di antara tua dan muda, mereka telah mempersulit diri.

Tadinya jika mereka tangkap saja sembarang lembu betina, entah muda entah tua, perintah itu telah terlaksana dengan baik. Tetapi dengan perintah yang sekarang ini, mereka sudah mesti menyaring benar terlebih dahulu dan menaksir lembu-lembu betina yang hendak disembelih itu. Nabi Musa memerintahkan lekas-lekaslah laksanakan perintah itu, dengan maksud supaya mereka jangan bertanya lagi. Tetapi mereka tidak mau mengerti. Mereka masih bertanya juga:

”Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami”

Cobalah tanyakan kembali kepada Tuhanmu itu:

”agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.”

Sekarang warnanya pula yang mereka tanyakan kepada beliau. Padahal kalau tidak mereka tanyakan warna, sembarang warnapun jadi.

”Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”

Jawaban Nabi Musa ini mempergandakan kesulitan mereka. Tadi sudah diperintahkan agar segera perintah itu dilaksanakan. Tetapi karena ingin hendak menunjukkan bahwa mereka orang ahli bertanya semua, sekarang mereka minta penjelasan warnanya. Dan telah dijawab oleh Nabi Musa, hendaklah kuningnya bukan sembarang kuning, hendaklah kuning kemilau, senang mata memandangnya. Belum juga mereka insaf rupanya bahwa mencari lembu betina yang demikian warnanya, demikian pula umurnya, bukanlah perkara yang mudah lagi, sedang urusan pembunuhan belum lagi diselesaikan. Dan itupun belum juga memuaskan mereka, mereka masih juga berkata:

”Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami.”

Lembu itu banyak, lantaran banyaknya kami jadi ragu.

”dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”

Mudah-mudahan kami kelak diberi petunjuk Allah mencarinya, sehingga dapat yang kita cari itu.

”Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.”

Dengan jawaban Nabi Musa seperti ini bertambah kesukaran mencari lembu betina yang tidak muda lagi, belum tua benar, kuning warnanya, berkilau-kilauan dan belum pernah diambil penarik bajak membuka tanah atau membajak sawah dan tidak ada cacat, tidak ada luka atau parut, dan tidak ada belangnya. Benar-benar seekor lembu pingitan.

Tetapi bagaimana mereka atas jawaban yang terakhir itu. Mereka bangga dan:

”Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.”

Kalau begitu barulah kami percaya bahwa engkau sungguh-sungguh seorang Nabi yang diutus Allah membawa kebenaran.

”Kemudian mereka menyembelihnya”

Yaitu sesudah bekerja keras berhari-hari lamanya mencari lembu betina dengan syarat-syarat yang demikian. Alangkah susahnya, bertemu lembu betina berkilau-kilau warnanya, sayang bukan kuning. Bertemu kuning berkilau-kilau, tetapi ada cacat bekas luka. Bertemu yang tidak luka, sayang ada belangnya. Ada lembu betina yang bagus, sayang masih terlalu muda. Ada yang belum diambil menenggala atau membuka sawah, sayang sudah agak tua. Dan bermacam-macam kesukaran yang lain, sehingga:

”dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.”

Sekarang barulah dijelaskan sebab-sebab perintah menyembelih lembu betina itu.

”Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.”

Kedapatan orang mati terbunuh, tetapi tidak terang siapa pembunuhnya. Maka timbul tolak-menolak, tuduh-menuduh. Maka disembelihlah lembu betina itu, yang akan digunakan pencari siapa pembunuhnya.

”Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaanNya agar kamu mengerti.”

Menurut yang diriwayatkan oleh Abd bin Humaid, Ibnu Jariri, Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan al-Baihaqi dalam Sunnahnya yang diterima dari Ubaidah as-Salmani, dipukulkan bagian badan lembu betina itu ke kubur orang yang mati terbunuh itu, lalu dia bangkit dari dalam kuburnya, terus bercakap: ”Yang membunuh aku ialah anak saudaraku, karena mengharapkan warisanku, sebab aku tidak beranak, maka dialah yang berhak menerima waris, sebab itulah aku dibunuhnya.” Sehabis bercakap itu dia jatuh kembali dalam keadaan semula, yaitu bangkai dan langsung dikuburkan kembali. Karena mendengar keterangan sejelas itu, maka anak saudaranya itu ditangkap dan dijalankanlah hukum qishash atas dirinya.

Dengan jalan penafsiran seperti ini difahamkan ujung ayat tadi, bahwa Allah telah memperlihatkan kekuasaan-Nya, ayat-ayat-Nya.

Syaikh Muhammad Abduh menurut yang diriwayatkan oleh muridnya Sayid Rasyid Ridha di dalam Tafsir al-Manar berkata: ”Telah aku katakan kepada tuan-tuan bukan sekali dua, bahwa wajiblah kita awas benar dengan kisah-kisah Bani Israil ini dan kisah-kisah Nabi-nabi yang lain dan jangan lekas percaya dari apa yang ditambah-tambahkan atas al-Qur’an dari kata-kata ahli-ahli tarikh dan ahli-ahli tafsir.

Orang-orang yang berminat besar kepada penyelidikan sejarah dan ilmu pengetahan di zaman kini sependapat dengan kita, bahwa tidak boleh dipercaya saja barang sesuatu dari tarikh zaman-zaman lampau itu yang mereka namai Zaman Gelap, melainkan sesudah penyelidikan yang mendalam dan membongkar bekas-bekas kuno yang terpendam. Tetapi kita dapat memberi maaf ahli-ahli tafsir yang membumbui kitab-kitab tafsir dengan kisah-kisah yang tidak dapat dipercayai itu, karena maksud merekapun baik juga. Tetapi kita tidak boleh berpegang saja kepadanya, bahkan kita larang keras. Cukup jika kita berpegang saja dengan nash-nash yang seterang itu dalam al-Qur’an dan tidak pula kita lampaui lebih dari itu. Kita hanya suka mengambil untuk penjelasan, jika penjelasan itu sesuai dengan bunyi al-Qur’an, apabila shahih riwayatnya.”

”Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.”

Lebih keras daripada batu, sebab tidak ada pengajaran yang bisa masuk ke dalam.

”Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya”

Artinya daripada batu yang dikatakan keras itu masih juga ada faedah yang diharap, dia dapat memancarkan sungai. Tapi hati yang keras tak dapat memancarkan faedah apa-apa.

”dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya”

Dapatlah menjadi minuman orang, berfaedah juga.

“dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah.”

Maka kalau hatimu diibaratkan sekeras batu, padahal daripada batu masih banyak faedah yang diharapkan dan dari batu yang runtuh karena takutnya kepada Allah dan tunduk sujudnya kepada Allah, apakah lagi misal yang layak bagi hatimu yang kesat lagi keras itu? Sungguhpun demikian:

”Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”

Tidaklah Allah lengah. Tidaklah kamu lepas dari titikan Allah. Pasti datang masanya kamu membayar sendiri dengan mahal segala kejahatan hatimu ittu. Jika pengajaran yang lunak tidak berbekas kepada hatimu, karena lebih keras dari batu, maka palu godam azablah yang akan menimpa dirimu kelak. Waktunya akan datang.

Hikmah:
Celaan keras pada ayat-ayat tersebut, terutama ceritera penyembelihan lembu betina itu meninggalkan kesan mendalam di hati kita kaum muslim, bahwa Allah menurunkan suatu perintah dengan perantaraan RasulNya adalah dengan terang, jitu dan ringkas. Agama tidaklah untk mempersukar manusia. Sebab itu dilarang keraslah bersibak tanya, yang kelak akan menyebabkan itu menjadi berat. Bukanlah perintah agama yang tidak cukup, sebab itu jalankanlah sebagaimana yang diperintahkan. []

Sumber: Tafsir Al-Azhar, QS Al Baqarah 2: 67-74, Prof. Dr. Hamka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: