Yahudi dan Nasrani dalam Perspektif Aqidah Islam

BTM3 Unimed – Salah satu di antara pemikiran itu adalah inklusivisme teologi, liberalisme atau pluralisme yang memandang bahwa semua agama adalah sama, atau sama-sama memiliki nilai-nilai kebenaran, khususnya terhadap agama-agama yang dikenal sebagai agama samawi yang mempunyai sumber asal kitab suci, yaitu Yahudi dan Nashrani.

Tulisan singkat ini, ditulis untuk menegaskan kembali padangan aqidah Islam terhadap Yahudi dan Nashrani yang tidak wajar orang Islam tidak tahu, dalam rangka membentengi ummat Islam dari serbuan pemurtadan yang kini tengah menjadi-jadi. “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu
sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.

Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 217).

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). (An-Nisa’: 89).

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120).

Yahudi dan Nasrani Dulu

Yahudi adalah agama orang-orang Ibrani yang turun temurun dari nabi Ibrahim as. yang dikenal dengan Asbath (anak cucu) Bani Israil, dimana Allah mengutus Musa as. kepada mereka, diperkuat dengan Taurat. (WAMY, Gerakan Keagamaan Dan pemikiran).

Kata Yahudi sendiri, seperti disebutkan Imam Qurthubi, adalah dinisbatkan kepada Yahudza, anak tertua dari Nabi Ya’qub. (Tafsir Qurthubi). Ada juga yang mengatakan bahwa kata Yahud berasal dari kata al-huud yang berarti taubat, karena mereka taubat setelah menyembah
patung anak sapi, seperti dalam firman Allah:

“Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami bertaubat (tubnaa) kepada Engkau. (Al-A’raf: 156).

Oleh karena itu, orang Yahudi pada dasarnya adalah ahli kitab yang bertauhid. Ini adalah asalnya. Namun setelah itu mereka lebih cenderung pada polyteisme dan oportunistis.

Setelah mereka diselamatkan oleh Allah dari cengkeraman Fir’aun, dengan mu’jizat dari Allah mereka bisa menyeberangi lautan sedang Fir’aun tenggelam. Setelah mereka mendarat, dan berjumpa dengan kaum yang memiliki berhala-berhala, mereka (Bani Israil) itu minta kepada Nabi
Musa agar mereka juga dibuatkan tuhan-tuhan (yang bisa disembah). Maka Nabi Musa berkata: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang bodoh.Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.” (Lihat:
Al-A’raf: 138-140).

Begitu juga ketika mereka ditinggal Nabi Musa selama empat puluh hari ke gunung Thur untuk menerima wahyu, mereka membuat patung anak sapi dari emas yang bertubuh dan bersuara untuk disembah. (QS. 7:146).

Dan ketika Taurat hilang, sepeninggal Nabi Musa, Ezra-lah yang membuatkan Taurat itu ada kembali. Oleh sebab itulah maka setelah dibangunnya kembali Haikal Sulaiman, Ezra oleh mereka disebut Anak Allah. Dialah yang disebut oleh Al-Quran dengan Uzair. “Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (At-Taubah: 30).

Sedang Nashrani adalah agama Masehi yang diturunkan kepada Isa as. untuk menyempurnakan ajaran-ajaran (risalah) Musa as. yang ada dalam Taurat, ditujukan kepada Bani Israil, yang menyerukan kepada penghalusan perasaan dan meningkatkan (mempertinggi) nurani dan jiwa. (WAMY, Gerakan Keagamaan Dan pemikiran).

Imam Qurthubi menjelaskan, bahwa ada yang mengatakan kata Nashrani berasal dari nama sebuah desa Naashirah yang ditempati oleh Nabi Isa. Maka Nabi Isa disebut Isa an-Naashiri, dan para sahabatnya disebut an-Nashaaraa. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka disebut Nashara (satu nasrani) karena mereka saling tolong menolong satu sama yang lain (linushrati ba’dlihim ba’dlan). Dan ada juga yang mengatakan mereka sebut Nashara, karena ketika Nabi Isa berkata siapa penolong-penolongku kepada Allah (man ansharii ilallah)?” Mereka menjawab:

“Kami penolong-penolong Allah (nahnu ansharullah).” (Lihat QS. 3: 52/ 61: 14).

Maka Nashrani sebagaimana Yahudi pada dasarnya adalah ahli kitab yang bertauhid. Tetapi kemudian di antara mereka menjadi kafir dan musyrik setelah aqidah mereka berubah dari tauhid menjadi trinitas. “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al-Maidah: 73).

Ibnu Umar berkata: “Aku tidak tahu ada syirik yang lebih besar dari pada ucapannya (orang nashrani), bahwa tuhan mereka adalah Isa.” (Rawai’ul Bayan, Ash-Shabuni, 1: 536).

Disebutkan dalam Mausu’ah Muyassarah, bahwa Paulus (Saulus) adalah orang Yahudi jahat yang masuk Kristen. Dialah yang punya andil besar dalam merusak ajaran agama masehi yang benar, dengan memasukkannya ide Trinitas, ketuhanan al-Masih, bangkitnya al-Masih dari kematian (setelah disalib dan dikubur) kemudian naik untuk duduk di samping Bapaknya. Paulus pula yang membuat khurafat “komuni”, penebusan dosa yang diadopsi dari filsafat Yunani yang berhalaisme, menyeru kepada ketuhanan ruhul qudus, tidak perlunya khitan dan membuat kisah tentang juru selamat. Dia jugalah yang telah merubah agama Masehi yang semula khusus untuk Bani Israil, menjadi agama untuk seluruh dunia.Paulus telah menulis 14 buah kitab ajaran , yang berasal dari 21 risalah yang menjadi kumpulan risalah-risalah yang dianggap sumber hukum bagi Kristen. (WAMY, Gerakan Pemikiran Dan Keagamaan, 2/hal. 393).

Yahudi Dan Nashrani Sekarang (Setelah diutusnya Nabi Muhammad)

Sebagaimana yang telah disebutkan, bahwa baik Yahudi maupun Nashrani pada dasarnya adalah ahlul kitab yang bertauhid, yaitu bertuhankan Allah Yang Esa. Masing-masing dibawa tuntunan Nabi Musa dan Nabi Isa, yang dua-duanya adalah ulul ‘azmi minar rusul. (Lihat QS A;-Ahqaf: 35). Kendatipun kedua ummat tersebut sepeninggal Rasulnya masing-masing, telah banyak menyeleweng dari ajaran yang benar sehingga mereka menjadi kafir dan musrik, namun sampai dengan diutusnya Nabi Muhammad, Al-Qur’an tidak menafikan bila di antara mereka ada yang hanif dan beriman secara benar. Sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah: 62).

Ayat ini sebagaimana yang disebutkan Ibnu Katsir, diturunkan berkaitan dengan pertanyaan Salman Al-Farisi tentang pendeta-pendata yang baik yang pernah dia jumpai bahkan menjadi gurunya dan menasehati agar datang ke Madinah untuk beriman kepada Utusan Allah yang terakhir, bagaimana sebenarnya nasib mereka itu: selamat atau celaka? Maka Allah menjawabnya
dengan ayat tersebut, yang menunjukkan bahwa selama bereka beriman dengan benar maka tentu mereka selamat.

Adapun hukum dan nasib mereka setelah diutusnya Nabi Muhammad, sementara mereka masih tetap dengan agama mereka dan tidak mengikuti serta tidak beriman terhadap Nabi Muhammad, maka siapa pun mereka, hukumnya adalah kafir dan celaka (masuk neraka), kendatipun mereka disebut sebagai ahlul kitab. Ini adalah aksioma dalam aqidah Islam. Karena setiap orang yang
tidak beriman kepada Muhammad adalah kafir; orang yang tidak beriman kepada Al-Qur’an adalah kafir; orang yang tidak mau bersyahadat. Maka Allah berfirman dengan sangat jelas tentang kekafiran kaum Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani) yang bersikukuh tidak mau mengikuti Nabi Muhammad sama dengan kaum musyrikin yang tidak ahli kitab. ” “Sesungguhnya orang-orang kafir yakni Ahlil Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Baiyinah: 6).

Di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan, Rasulullah Saw. Bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, tidaklah seorang pun yang mendengar tentang aku dari ummat ini baik Yahudi maupun Nashrani, lalu tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim, no. 218).

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Di antara yang wajib diketahui adalah bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad Saw. kepada seluruh ummat manusia dan jin. Maka tidak ada seorang pun baik, manusia maupun jin, kecuali wajib beriman kepada Nabi Muhammad Saw.; wajib percaya terhadap apa yang diberitakannya, mentaati apa yang diperintahkannya. Barangsiapa yang
yang telah sampai kepadanya bukti nyata tentang kerisalahannya, lalu tidak beriman, maka dia adalah kafir, baik dia itu manusia maupun jin.” (Al-Furqan, Ibnu Taimiyah).

Ibnu Katsir mengatakan, “Siapa saja yang mati setelah diutusnya Nabi Muhammad dalam kondisi beragama selain agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad maka tidaklah diterima, sebagaimana firman Allah: “Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidaklah diterima darinya, dan jadilah ia termasuk orang-orang yang rugi.” (Tafsir Ibnu Katsir). 

Akhirnya perlu ditegaskan kembali, dan sekali lagi ini adalah aksioma dalam aqidah Islam, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani yang ada sekarang sebagaimana orang-orang non Islam yang lainnya adalah kafir, akan kekal di dalam neraka, kecuali bila mereka bertaubat dan masuk Islam. Dan dalam kaidah Aqidah Islam, orang yang tidak mengkafirkan orang yang jelas-jelas kafir (seperti kafirnya Yahudi dan Nashrani sekarang) adalah kafir. “Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi. (Al-Maidah: 5).

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan
orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Maidah: 54).

Wallahu waliyuttaufiiq. []

___
Sumber: Situs Hizbul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: