Mengenal Islam (I), Makna Secara Bahasa

BTM3 Unimed – Teman-teman, dalam menganut agama Islam, kita jangan sampai hanya sekedar menganutnya tanpa mengetahui makna dari Islam itu sendiri. Karena tanpa mengetahui maknanya, maka bisa jadi kita hanya sekedar menganut tanpa mengamalkan ajaran Islam. Karena tidak mungkin seseorang melakukan suatu aktivitas atau amal tanpa dia mengetahui ilmunya. Mungkin inilah sebabnya mengapa umat Islam di negeri ini lebih banyak yang sekedar menganut agama Islam (baca: Islam KTP), ketimbang yang mengamalkan ajaran Islam. Untuk itu, marilah perlahan-lahan kita memahami apa makna dibalik kata “Islam” itu.

Terminologi Islam secara bahasa (secara lafaz) memiliki beberapa makna. Makna-makna tersebut ada kaitannya dengan sumber kata dari “Islam” itu sendiri, yang notabene berasal dari bahasa Arab. Islam terdiri dari huruf dasar (dalam bahasa Arab): “Sin”, “Lam”, dan “Mim”. Beberapa kata dalam bahasa Arab yang memiliki huruf dasar yang sama dengan “Islam”, memiliki kaitan makna dengan Islam. Dari situlah kita bisa mengetahui makna Islam secara bahasa.

Jadi, makna-makna Islam secara bahasa antara lain: Islamul wajh (menundukkan wajah), Al istislam (berserah diri), As salamah (suci bersih), As Salam (selamat dan sejahtera), As Silmu (perdamaian), dan Sullam (tangga, bertahap, atau taddaruj).

Islamul wajh (menundukkan wajah)

Apabila seseorang melihat orang lain, biasanya yang dia lihat cukup wajahnya, jarang yang melihat anggota tubuh lainnya. Karena bisa dikatakan, wajah cukup mewakili seluruh anggota tubuh.

Ketika seseorang bertemu dengan orang lain yang dia hormati, biasanya secara refleks dia agak sedikit menundukkan wajahnya di depan orang tersebut. Dia ingin menujukkan rasa hormatnya kepada orang tersebut. Tentu bukan hanya wajah dia saja yang memberi hormat, tapi seluruh tubuh telah diwakili oleh tunduknya wajah.

Apalagi jika kepada Allah yang menciptakan kita, tunduk disini tidak sekedar menundukkan wajah dalam artian fisik saja. Namun juga seorang muslim yang baik harus menundukkan wajah, dirinya, kemauannya, dan sebagainya, kepada Allah SWT. Artinya, segala tindakannya, segala aktivitasnya, harus dibawah ketundukkan kepada Allah. Ini artinya, Islam menghendaki ummatnya untuk tunduk kepada Allah SWT, bukan tunduk kepada yang lain selain Allah.

Tunduknya seseorang kepada Allah juga bukan sekedar tunduk, misalnya tunduk terpaksa, yang menunjukkan ketidak-ikhlashan. Ketundukkan kepada Allah juga harus disertai dengan aqidah yang lurus dan amaliah. Artinya, tunduknya seseorang kepada Allah itu ditampakkan dengan amalan dia sehari-hari, berupa kebaikan-kebaikan dan seluruh tindakannya didasari kepada aqidah yang lurus. Aqidah yang lurus maksudnya adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sembahan, sebagai satu-satunya Tuhan, sebagai satu-satunya tempat meminta pertolongan, meminta perlindungan, Allah sebagai tujuan, dan sebagainya. Seluruh Nabi pada dasarnya membawakan aqidah yang sama, yaitu mentauhidkan Allah, aqidah yang lurus. Misalnya nabi Ibrahim, yang sering disebut sebagai bapaknya para Nabi.

Jika seseorang memahami makna Islam ini (Islamul wajh), niscaya segala perbuatannya tidak akan keluar dari batasan-batasan Islam. Apakah batasan-batasan Islam itu? Yaitu yang tertuang dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Sehingga ketika Al Qur’an melarang riba misalnya, maka seorang muslim tentu tidak akan mengambil riba (bunga bank). Atau ketika Al Qur’an mewajibkan puasa Ramadhan, maka seorang muslim tentu harus melaksanakan puasa Ramadhan itu. Dan lain sebagainya. Orang tersebut senantiasa menyerahkan dirinya kepada Allah, dia nurut dengan ikhlash terhadap apa yang Allah kehendaki dan apa yang Allah larang. Inilah ketundukkan seorang muslim yang merupakan cerminan dari Islam itu sendiri (islamul wajh).

Allah SWT berfirman:

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (QS. An Nisaa: 4)

bersambung…

[– serial Tarbiyah Islamiyah: ma’rifatul dinul Islam –]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: