Mahasiswa dan Kepedulian

BTM3 Unimed – Semua orang sepakat bahwa pemuda atau mahasiswa adalah wujud puncak seorang manusia. Ia adalah produk generasi yang memiliki semangat perjuangan dan pengorbanan yang tinggi. Masa muda adalah masa serba ingin tahu, masa yang peka, penuh kepedulian, dan mampu menampung semua perubahan yang terjadi dari hal yang baik sampai yang paling buruk. Pemuda adalah sosok yang bisa menampilkan kekuatan puncak di antara dua kelemahan, yaitu kelemahan masa anak-anak dan kelemahan masa tua. Ibarat cahaya matahari di tengah hari yang lebih kuat sinarnya dibanding pagi dan senja hari.

Bahkan percaya atau tidak bangsa kita didirikan sebagian besar karena hasil karya pemuda. Karena pemudalah Soekarno berani berkata : “Berikan kepadaku 1000 orang tua aku sanggup mencabut Semeru dari uratnya. Tapi berikan kepadaku 10 pemuda, maka aku sanggup menggoncangkan dunia. Dan kata-kata itu terus dikenang dunia hingga sekarang.

Begitu pentingnya masa muda sampai-sampai Rasulullah SAW bersabda: “Gunakan lima kesempatan sebelum datangnya yang lima. Yaitu, masa mudamu sebelum tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa hidupmu sebelum kematianmu, dan waktu luangmu sebelum waktu sempitmu.” (HR Hakim). Rasul pun pernah bersabda, “Perjuangan Aku didukung oleh pemuda, oleh sebab itu berilah wasiat yang baik untuk mereka.”

Maka tak salah bila kebangkitan suatu bangsa atau agama diawali dari kebangkitan moral dan intelektual generasi mudanya. Sebaliknya, kehancuran sebuah bangsa diawali dari kehancuran moral generasi mudanya. Dr Syakir Ali Salim mengatakan perbaikan umat, sehingga eksistensi sebuah umat sangat tergantung pada generasi mudanya.

Mahasiswa, Kepedulian dan Agent of Change

Sekarang timbul pertanyaan, pemuda seperti apakah yang mampu menjadi agen perubahan (agent of change) sebuah bangsa? Jawabannya adalah “para pemuda yang tidak normal”. Apakah maksudnya? Sebuah perubahan tidak bisa terjadi kalau kita mengandalkan pemuda yang hanya bisa bersenang-senang, hanya bisa pacaran, hanya bisa “mengisap darah” orang tuanya, atau hanya bisa menghambur-hamburkan waktu untuk hal yang tidak penting. Kita membutuhkan pemuda-pemuda yang melenceng dari “kenormalan” seperti ini. Pemuda yang bisa mengendalikan hasrat dan nafsunya untuk hal-hal tidak berguna dan memacu semua potensinya untuk merancang dan membangun masa depan.

Sejarah mencatat, melalui para pemuda seperti itulah Islam mulai berjaya. Lihatlah bagaiamana pemuda Muhammad bin Abdullah, Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair, dan para sahabat lainnya. Mereka mampu keluar dari “kenormalan” budaya orang-orang Arab ketika itu, tenggelam dalam kemusrikan, nafsu syahwat, minum arak, berjudi, asshabiyah (fanatisme), dan kejahiliyahan lainnya. Merka berani menentang budaya jahiliyah walau harus mengalami siksaan dan penderitaan. Padahal, bila dilihat dari strata sosial, sebagian dari mereka tergolong orang terpandang lagi kaya dan mampu meraih kesenangan lebih dari pemuda-pemuda? jahiliyah pada masanya. Tidak ada yang mereka inginkan, kecuali tegaknya kalimat Allah di muka bumi.

Mahasiswa Pejuang

Kita pun tidak bisa membayangkan Indonesia bisa merdeka seandainya Soekarno, Muhammad Hatta, Muhammad Natsir, dan para founding fathers lainnya mengikuti pola umum kehidupan anak muda. Bisa saja mereka mengejar karier, mendapat gaji bear, menikahi wanita Belanda, dan hidup enak. Padahal, semua itu amat terbuka bagi mereka. Tapi semua itu tidak mereka lakukan, karena ada hal yang lebih besar, yaitu merebut kembali kehormatan bangsa yang direnggut penjajah.

Bagi mereka yang berada dalam lingkup usia muda usia antara 15-40 tahun terdapat dua pilhan menjadi pemuda normal dalam arti menghabiskan waktu muda seperti pemuda kebanyakan, atau menjadi pemuda “abnormal” yang mengisi hidup dengan perjuangan. Yang jelas kehormatan tidak akan diperoleh umat Islam kalau generasi mudanya menjadi golongan yang pertama.

Menjadi Mahasiswa Berkualitas

Untuk membentuk generasi berkualitas ada perangkat atau “sarana penunjang” yang harus dimaksimalkan, yaitu hati nurani (dhamir, spiritual intelligence), akal (rasio atau intellectual quotion), rasa (syu’ur atau emosi), dan jasad (fisik). Bila keempat perangkat ini bisa dimaksimalkan, maka akan lahir generasi muda yang memiliki delapan karakter utama yaitu: aqidah yang kuat, ibadah yang baik dan benar, kesempuranaan akhlak, kematangan intelektual, jasad yang kuat, teratur dan cermat dalam berkarya, memperhatikan waktu, dan mampu menjadi orang yang bermanfaat.

Bagaimana mewujudkannya? Menurut As-Syahiid Hasan Al Banna, perbaikan suatu umat tidak akan terwujud kecuali dengan perbaikan pemudanya. Perbaikan pemuda tidak akan suskses kecuali dengan perbaikan jiwa. Perbaikan jiwa tidak akan berhasil kecuali dengan pendidikan dan pembinaan. Dengan pendidikan dan pembinaan yang berkualitas generasi muda yang unggul bisa diwujudkan.

Bekal yang harus dimiliki mahasiswa untuk menghadapi tantangan perubahan zaman:
1. Aqidah yang Selamat
2. Ibadah yang Baik dan Benar
3. Kesempurnaan Akhlaq
4. Kematangan Intelektual
5. Jasad yang Kuat
6.?Teratur dan Cermat dalam Berkarya
7.?Perhatian terhadap Waktu
8. Bermanfaat bagi Orang Lain

Skala Prioritas Mahasiswa

Seorang pemuda dianugrahi akal yang cerdas oleh Allah untuk memikirkan berbagai perkara dan ia mempunyai kemampuan untuk menimbang mana perkara yang lebih penting. Artinya, ia memprioritaskan yang paling penting daripada yang kurang penting, demikian seterusnya.

Dalam menuntut ilmu, seorang mahasiswa muslim harus mengenal skala prioritas. Ibnu Khaldun berkata, “Ketahuilah bahwa umur tidak mungkin dapat digunakan untuk mendapakan semua ilmu, tetapi seorang muslim layak kiranya mengenal sedikit dari semua ilmu, lalu menspesialisasikan diri dalam satu disiplin ilmu.” Dengan ungkapan ahli ekonomi, dapat dikatakan, “Memanfaatkan secara optimal potensi yang tersedia.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: