Mengenal Islam (II), Makna Secara Bahasa

BTM3 Unimed – Sobat semua, makna Islam yang kedua secara bahasa adalah Al istislam.

Al istislam (berserah diri)

Al istislam juga memiliki huruf dasar yang sama dengan “Islam”, yaitu Sin, Lam, dan Mim. Sehingga Al istislam atau berserah diri merupakan makna lain dari Islam secara bahasa. Dengan demikian, seorang muslim seharusnya adalah manusia yang sepenuhnya berserah diri dan tunduk patuh kepada Allah SWT. Tanpa menerima dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, terhadap hukum-Nya, Islam yang dia anut tidaklah Islam yang seutuhnya.

Seluruh alam semesta ini, termasuk sebagian manusia, semuanya berserah diri kepada Allah. Matahari, bulan, bintang, bumi, semuanya berserah diri dan tunduk kepada Allah, baik secara sadar maupun tidak sadar, secara suka atau terpaksa. Andaikan semua itu tidak berserah diri, tidak tunduk kepada perintah Allah, maka niscaya alam semesta ini hancur.

Kita ambil contoh matahari. Mari kita pikirkan bagaimana jadinya kalau matahari “membangkang”, tidak tunduk mengikuti perintah Allah agar tetap beredar pada lintasannya. Maka bisa jadi matahari itu akan bertabrakan dengan benda-benda langit lainnya, dan kehancuran tata surya akan terjadi. Atau bagaimana jadinya jika bumi tidak mematuhi perintah Allah untuk berevolusi dan berotasi pada porosnya? Niscaya bumi sisi satu akan senantiasa gelap membeku dan sisi lainnya akan terik terbakar cahaya matahari. Selain itu di bumi tidak ada pergantian hari. Ujung-ujungnya tiada kehidupan di muka bumi. Kerusakan itu semua adalah akibat adanya ketidakpatuhan. Tapi alhamdulillah matahari dan bumi adalah makhluk Allah yang senantiasa berserah diri kepada Allah hingga kita semua bisa merasakan nikmatnya sunnatullah kauniyah ini.

Demikian pula kita sebagai manusia, apabila manusia tidak berserah diri dan tunduk terhadap perintah Allah, niscaya kerusakan akan terjadi di muka bumi. Mari kita tanya pada diri kita sendiri, kepada siapa lagi kalau bukan kepada Allah kita berserah diri? Apakah kepada manusia lain? Ataukah kita lebih berserah diri kepada hawa nafsu kita sendiri? Allah SWT berfirman,

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. Ali Imran: 83)

Bagi orang-orang yang berserah diri, Rasulullah SAW memberikan kabar gembira dalam sabdanya,

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang berserah diri, yang diberi rizki dengan rasa cukup, dan merasa puas dengan apa yang telah diberikan Allah baginya.” (HR. Ahmad).

Sobat muda, mari kita menjadi manusia yang senantiasa berserah diri kepada Allah, yang senantiasa menjadikan Islam sebagai pedoman hidupnya. Karena hanya kepada Allah-lah kita semua kembali.

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al An’am: 162-163)

bersambung…

[– Tarbiyah Islamiyah: ma’rifatul dinul Islam –]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: