Indahnya Hidup Berdisiplin

Btm3 Unimed – Ketika Allah ciptakan langit dan bumi, ketika Allah jadikan malam dan siang, ketika Allah sediakan daratan dan lautan dan ketika Allah ciptakan surga dan neraka dengan segala isinya yang kesemuanya itu untuk mahluk-Nya yang bernama manusia, bukanlah sebatas menjadikannya tanpa aturan atau mewujudkannya tanpa pemeliharaan. Semua itu adalah tanda-tanda kekuasaan-Nya yang sangat disiplin dan teratur.
Ketika Rasulullah Saw. sedang asyik bercanda dengan keluarganya, lalu terdengar suara adzan kemudian sesegera mungkin mereka bergegas dan seakan-akan saling tidak mengenal untuk melaksanakan panggilan Allah tersebut. Dan ketika turun ayat yang memerintahkan untuk berperang yang disambut langsung oleh para sahabat?bahkan ada di antara mereka yang sudah tua, jalan pun tidak sanggup?dengan berlomba-lomba berangkat ke medan perang. Semua itu tidaklah jadi seketika, tapi melalui proses disiplin yang panjang. Masihkah ada contoh yang lebih indah dari dua contoh di atas yang dibangun dari pondasi Islam yang kokoh?

Disiplin adalah bagian dari militansi seseorang. Disiplin juga merupakan nilai dan bukti dari sikap seseorang dalam mengimplementasikan sebuah teori. Dalam kehidupan, kita tidak bisa terlepas dari peraturan-peraturan yang mengikat gerak dan langkah kita. Pada kenyataannya, peraturan menuntut kita untuk lebih kritis dalam mengambil langkah. Namun membangun disiplin diri tidaklah semudah membalik telapak tangan. Tapi ia membutuhkan proses pelatihan panjang dan kerja keras. Tanpa latihan berdisiplin sejak dini dan dari hal yang paling kecil, tidak mungkin akan terwujud kedisiplinan dalam skup yang lebih besar. Kesuksesan yang diraih seseorang tidak bisa terlepas dari sikap disiplinnya dalam meniti tangga kesuksesan. Bahkan, kesuksesan suatu lembaga juga karena disiplin yang dibangun oleh setiap individu yang berada di dalamnya.

Disiplin dan waktu adalah dua kata yang tidak terpisahkan. Waktu adalah bagian dari hidup kita. Apabila waktu kita terlewatkan, maka hilanglah sebagian dari hidup kita. Itulah sebabnya mengapa Allah dalam beberapa ayat al Qur?an berjanji dengan waktu; demi waktu fajar (wal fajr), siang (wadl dluh⩼/I>, malam (wal lail), dan lain sebagainya. Kalau kita telaah lebih jauh, maka akan kita dapatkan sebuah kesimpulan, bahwa Allah menuntut kita untuk membagi waktu seefektif mungkin. Kapan waktu untuk mengadu kepada-Nya yang wajib maupun yang sunnah (malam dengan qiy⭵l lailnya, dan siang dengan interaksi sosialnya). Juga kapan kita bekerja untuk kemashlahatan duniawi kita. Melihat dari kewajiban kita tadi, maka disiplin waktu menjadi keniscayaan jika keberhasilan dunia akhirat ingin kita raih dalam kehidupan kita. Kendala yang sering kita alami dalam menyikapi disiplin waktu, terkadang kita menilai setiap pekerjaan/kedisiplinan dengan imbalan material. Atau sebatas hasil yang nampak di hadapan orang banyak, sehingga prioritas kita hanya terfokus pada bagaimana mengasah akal hingga menjadi manusia pintar seperti komputer. Tapi di sisi lain lupa membagi waktu untuk ruh kita yang juga memiliki kebutuhan yang sama untuk diperhatikan. Terasa tidak adil kalau kita hanya memperhatikan akal dan mengesampingkan ruh. Padahal ruh juga sangat mempengaruhi sikap dan mental kita dalam menjalani hidup ini. Mengasah kecerdasan spritual agar peka terhadap masalah akhlak adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ruh. Akal kita sangat mudah terpengaruh oleh jebakan hawa nafsu, sehingga Imam Ali bin Abi Thalib menggambarkan, jika seseorang bersandarkan hanya kepada akalnya saja?tanpa ruh, maka ia akan tersesat. Dengan mengesampingkan ruh dalam menjalani aktivitas hidup, kita akan terjebak pada rasionalisasi yang tidak proporsional, berdalih untuk menutupi kekurangan diri atau berusaha untuk unggul dari orang lain dengan tidak mengindahkan nilai kebenaran.

Selain ruh, masih ada satu faktor lagi yang tidak kalah penting dalam disiplin waktu, yaitu badan. Badan kita yang selalu butuh energi untuk merealisasi apa yang ada dalam pikiran. Sehingga Rasulullah Saw. mengingatkan kita untuk memenuhi hak-hak badan kita. Sudahkah kita berdisiplin dalam membagi waktu kita untuk tiga kebutuhan primer? Yaitu: ruh, akal dan badan? Keseimbangan inilah yang sebenarnya menjadi prioritas agar kita menjadi manusia yang pintar dan berkepribadian.

Kendala lain yang juga sering menimpa kita dalam hidup berdisiplin adalah sering menganggap remeh persoalan. Walaupun ada skala prioritas dalam menyelesaikan setiap persoalan, namun tidak berarti menganggap enteng persoalan, karena itu akan berdampak santai dan tidak optimal dalam menyelesaikannya. Orang sukses adalah orang yang tidak menganggap remeh pekerjaan. Walaupun di hadapan manusia kecil nilainya, namun dalam pandangan Allah tidak ada pekerjaan yang sepele kalau dilakukan dengan penuh keikhlasan. Allah akan melihat etos kerja kita. Dan Allah sangat mencintai hamba-Nya yang mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan professional.

Di antara kendala disiplin waktu lainnya, kita sering menunda-nunda pekerjaan dengan berdalih “masih ada waktu”. Padahal kita selalu dituntut untuk berpacu dengan waktu agar setiap waktu yang berlalu memiliki arti. Menunda berarti membuang waktu. Dan waktu tidak akan pernah merasa dirugikan. Tapi kitalah yang telah tergilas olehnya, karena ia akan berjalan terus. Imanuel Kant?seorang ilmuwan nonmuslim yang begitu menghargai dan tahu akan urgensi mengatur waktu, pernah dijadikan standar waktu oleh orang-orang di sekitarnya. Apabila ia keluar rumah, semua orang tahu bahwa saat itu jam tujuh pagi. Karena setiap ia keluar rumah, biasanya tepat jam tujuh. Seharusnya umat Islam lebih berhak dari Imanuel itu. Karena bukankah konsep Islam dalam menata kehidupan sudah begitu lengkap? Kalaupun ada kekurangan pada pola hidup muslim, itu bukan lagi kesalahan konsep Islam dalam memanejemen waktu.

Ada kiat untuk membangun sikap displin dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Kiat ini dari seorang ulama terkemuka, Hasan Al-Bashri. Beliau mengatakan jika kamu akan melakukan suatu pekerjaan, pertama, lihat dulu apakah pekerjaan tersebut mampu kamu kerjakan? Hal ini mengajarkan kepada kita untuk mengevaluasi sebelum mengerjakan sesuatu?evaluasi jangan selalu diartikan sebagai koreksi di akhir pekerjaan. Kemampuan melakukan sesuatu bukan hanya sebatas fisik, tapi mampu secara pemikiran, dengan melihat berbagai kemungkinan resiko yang akan terjadi setelah melakukannya.

Kedua, apakah pekerjaan tersebut bermuatan kebaikan? Terkadang kita terlalu cepat mengklaim segala sesuatu dengan mengatakan ini baik, padahal itu belum cukup. Kita masih perlu melihat kapan dan di mana kita dapat menerapkan kebaikan itu agar hasilnya bisa maksimal.

Ketiga, apakah pekerjaan itu dikerjakan karena Allah? Orientasi ukhrawi dalam menjalankan segala aktivitas harus ada, jika kita tidak ingin pekerjaan yang kita lakukan terputus, hanya sebatas apa yang kita rasakan buahnya di dunia saja. Dengan orientasi ukhrawi, keuntungan yang kita dapat pun menjadi berlipat. Islam mengajarkan kita untuk berfikir dan punya cita-cita jauh ke depan. Tidak hanya sebatas kehidupan duniawi. Karena memang hidup kita pun berkelanjutan kepada alam yang lebih kekal. Dan yang terakhir apakah ada mitra yang akan mengerjakannya bersama kita? Kita sering lupa dan asyik bekerja sendiri. Padahal, akan lebih baik kalau kita mengajak teman bekerja sama dalam kebaikan. Itulah implementasi dari firman Allah yang artinya, “Tolong menolonglah kamu sekalian dalam kebaikan, dan jangan tolong menolong dalam kejelekan.” Ayat al Qur?an bukan hanya hiasan pengetahuan kita, tapi bukti yang bisa kita rasakan hasilnya. Dan ketika empat pertanyaan diatas terjawab, maka akan tergambar hasilnya. dan itulah “kedisiplinan”.

Di antara ciri seorang muslim, tidak akan melakukan sesuatu dengan sembrono, atau hanya sebatas formalitas?ketika selesai dari pekerjaannya, ia seakan merasa terlepas dan berbas dari belenggu. Profesional, proporsional dan disiplin. Itulah ciri generasi militan yang apabila melakukan sesuatu, hasilnya akan maksimal dan manfaatnya dirasakan oleh banyak orang. Semakin banyak karya yang dihasilkannya, maka akan semakin tinggi derajatnya di sisi Allah serta di hadapan manusia. Kita tidak terjebak dalam menilai yang hanya terbatas pada tataran kognitif. Tapi tataran normatif harus mengunggulinya, sehingga menjadi muslim cerdik dan produktif. Itulah sifat pribadi muslim sejati.

Sumber: SINAI o­nline – http://www.sinai.cjb.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: