Muhammad Al-Ghazali: Dai dan Pembaharu (1917-1996 M)

BTM3 Unimed - ”Syaikh Muhammad Al-Ghazali adalah ulama terkemuka, dai pembaharu, mujahid yang tulus, pejuang yang sangat berani, penulis yang memiliki ruh sastra dan gaya bahasa yang sukar dicari tandingannya,” kata ustadz Abdul Aziz Abdullah Salim kepada surat kabar Ar-Riyadh, Arab Saudi.

Syaikh Abu Hasan Ali An Nadwi di dalam bukunya Mudzakkirat Sa-ihin Fisy Syarqil ‘Arabi berkata, ”Syaikh Muhammad Al-Ghazali merupakan salah seorang dari tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin yang terkemuka dan merupakan seorang penulis kebangkitan keagamaan di Mesir. Akhirnya, saya dapat bertemu dengan penulis buku Al-Islam wa Audla’ul Iqtishadi, Al-Islam wal Manahijul Isytirakiyah, Al-Islam Al-Muftara Alaih, dan Min Huna Na’lam ini. Saya bertemu seorang lelaki yang menyajikan makanan pemikiran, ruhani, dan adab Islam yang murni. Saya sangat berbahagia karena dapat bertemu orang yang shalih, intelek, dinamis, hatinya hidup, otaknya bijak, dan wajahnya yang senantiasa jelas memancarkan kegembiraan. Menurutku, setiap kita dapat mengenalinya melalui buku-buku dan risalah-risalahnya. Karena buku-bukunya merupakan gambaran pemikiran prinsip-prinsip yang beliau yakini.”

Al-Ghazali lahir pada tanggal 22 September 1917, di kampung Naklal Inab, Itay Al’Barud, Buhairah, Mesir. Beliau dibesarkan dalam keluarga agama yang sibuk di dalam dunia perdagangan. Ayahnya hafizh Al-Qur’an. Lalu sang anak pun tumbuh mengikuti jejak ayahandanya dan sudah hafal Al-Qur’an semenjak usia sepuluh tahun.

Al-Ghazali menerima ilmu dari guru-guru di kampungnya. Beliau memasuki sekolah agama di Iskandariah hingga menamatkan pendidikan menengah atas (SMU). Kemudian beliau pindah ke Kairo untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Ushuluddin dan lulus pada tahun 1361 H / 1945 M. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di Dakwah wal ‘Irsyad dan mendapat gelar Magister pada tahun 1362 H / 1946 M. Al-Ghazali menikah ketika masih menuntut ilmu di Fakultas Ushuluddin dan dikaruniai sembilan orang anak.

Setelah menamatkan pendidikannya, Al-Ghazali menjadi imam dan khatib di Masjid Al-‘Atabah Al-Khadlra’. Setelah itu beliau menerima banyak jabatan yang secara berurutan sebagai berikut: Dewan Pengawas Masjid, Dewan Penasihat Al-Azhar, Wakil Dewan Urusan Masjid, Pengarah Urusan Masjid, Pengarah Pelatihan, Pengarah Dakwah wal Irsyad (Dakwah dan Penyiasatan).

Pada tahun 1949, Al-Ghazali meringkuk dalam penjara Ath-Thur selama satu tahun dan penjara Tharah tahun 1965 selama beberapa tahun. Pada tahun 1971, beliau menjadi dosen tamu di Universitas Ummul Qura, Makkah Al-Mukarramah. Pada tahun 1981, beliau dicalonkan sebagai Wakil Menteri, kemudian memegang jabatan Ketua Dewan Keilmuan Universitas Al-Amir Abdul Qadir Al-Jazaairi Al-Islamiyah di Aljazair selama lima tahun.

Hubungan Al-Ghazali dengan Hasan Al-Banna

Awal pertemuan Al-Ghazali dengan Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna diceritakan olehnya sebagai berikut: “Perkenalan itu bermula ketika saya belajar di Sekolah Menengah (SMU) Iskandariah. Ketika itu, saya mempunyai kebiasaan beriktikaf di Masjid Abdurrahman bin Harmuz, di daerah Ra’sut Tin selepas shalat Maghrib, untuk mengkaji ulang pelajaran.

Pada suatu petang, Imam Al-Banna menyampaikan nasihat ringkas mengenai penjelasan hadits ‘Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah setiap perbuatan buruk dengan perbuatan baik, tentu yang baik akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.’

Kata-katanya sangat berkesan dan secara langsung menembus ke hati yang paling dalam. Setelah mendengar nasihat itu, hatiku tertambat kepadanya. Saya tertarik kepada sikap dan peribadinya.

Sejak itu, hubunganku dengannya terjalin erat. Saya senantiasa bersamanya selepas shalat Isya’, di dalam majlis yang terdiri dari tokoh-tokoh dakwah. Selanjutnya, saya meneruskan aktivitas dalam perjuangan Islam bersama dai besar ini, hingga beliau syahid tahun 1949.”

Satu hal yang paling berkesan bagi Al-Ghazali ialah ketika menerima surat dari Imam Al-Banna, padahal ketika itu beliau masih muda belia pada tahun 1945. Surat Imam Al-Banna tersebut berbunyi,
“Saudaraku yang mulia, Al-Ghazali… Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Saya sudah membaca makalah Anda yang bertema Al-Ikhwanul Muslimun wal Ahzab dalam edisi akhir majalah Ikhwanul Muslimun. Saya sangat kagum dengan ungkapan makalah tersebut yang ringkas, maknanya yang cermat, dan adabnya yang sopan. Seperti inilah hendaknya kalian menulis, wahai Ikhwan! Menulislah dengan dorongan hati yang tulus. Semoga Allah Ta’ala selalu bersamamu. Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wa barakatuh. Hasan Al-Banna.”

Rasa kagumnya kepada Imam Hasan Al-Banna diungkapkannya dalam mukadimah buku Dusturul Wihdah Ats-Tsaqafiyah Lil Muslimin sebagai berikut, “Inspirasi dan tema buku ini berasal dari Imam Hasan Al-Banna; pembaharu abad ke-14 Hijriyah. Beliau telah meletakkan prinsip yang dapat menyatukan umat, memperjelaskan tujuan yang samar, mengembalikan kaum muslimin kepada Al-Qur’an dan As-Sunah, serta menyingkirkan penyimpangan dan sikap beristirahat, dengan halus dan cermat, sehingga kelemahan dan kemalasan tidak terjadi.”

Sifat-Sifat Al-Ghazali

Al-Ghazali dikenal sebagai seorang dai yang cerdik, memiliki semangat berkobar-kobar, keimanan yang mendalam, hati yang lembut, tekad yang teguh, lincah, ungkapan-ungkapan yang indah sastranya, mengagumkan, seorang yang fleksibel, dan pemurah. Ini semua diketahui oleh setiap orang yang pernah bergaul bersamanya, menyertainya atau bertemu dengannya.

Beliau tidak menyukai sikap memaksa diri (takalluf), benci terhadap kesombongan dan sikap berlagak, aktif mengikuti perkembangan sosial dengan segala persoalannya, turut serta dalam menyelesaikan masalah umat, mengungkapkan hakikat, dan mengingatkan umat tentang bencana yang ditimbulkan oleh syaitan-syaitan manusia dan jin; baik dari Barat maupun Timur.

“Syaikh Al-Ghazali merupakan salah seorang dari tokoh-tokoh Islam masa kini. Beliau merupakan dai yang tiada bandingnya di dunia Islam ketika ini. Beliau merupakan seorang yang genius dan keindahan katanya amat menawan hati, hingga saya dapat menghafal beberapa ungkapan, bahkan beberapa lembar tulisannya, lalu mengulangi sesuai dengan teks aslinya dalam beberapa ceramah,” demikian komentar Dr. Yusuf Al-Qaradhawi di dalam bukunya Asy-Syaikh Al-Ghazali Kama Araftuhu (Syaikh Al-Ghazali yang Saya Kenal).

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menambahkan, “Mungkin Anda berbeda pandangan dengan Al-Ghazali, atau beliau berbeda pendapat dengan Anda dalam masalah-masalah kecil maupun besar, sedikit atau banyak masalah. Tetapi, apabila Anda mengenalinya dengan baik, Anda pasti akan mencintai dan menghormatinya. Kerana Anda tahu keikhlasan dan ketundukannya kepada kebenaran, keistiqomahan orientasi, dan ghirahnya yang murni untuk Islam.”

Syaikh Al-Azhar, Dr. Abdul Halim Hamid Mahmud, mengakui kemuliaan dan membanggakan Al-Ghazali dengan mengatakan, “Kita punya Al-Ghazali yang masih hidup dan Al-Ghazali penyusun kitab Al-Ihya’.” (yaitu Muhammad Al-Ghazali dan Imam Al-Ghazali penyusun buku Ihya` Ulumud Din.)

Kembali ke Rahmatullah

Al-Ghazali wafat di Riyadh, Arab Saudi, tanggal 9 May 1996. Jenazahnya dipindahkan ke Madinah Al-Munawwarah, untuk dimakamkan di Al-Baqi’.

Al-Ghazali mewariskan lebih dari enam puluh buku dalam berbagai tema, termasuk ceramah, seminar, khutbah, nasihat, kajian, dan dialog yang disampaikan di Mesir maupun di luar Mesir. Buku-bukunya, seperti Aqidatul Muslim, Fiqhus Sirah, banyak yang telah dicetak ulang, dan sebagian besar diterjemahkan ke beberapa bahasa, yakni bahasa Inggris, Turki, Perancis, Urdu, Indonesia, dan lain sebagainya.

Khutbah yang beliau sampaikan mempunyai makna dan pengaruh yang sangat besar, sehingga banyak aktivis muda Islam memperoleh manfaat dari ilmu, keberanian, keterusterangan, kejujuran, dan kejelasan sikap Al-Ghazali. Kadernya yang terbina melalui khutbah, kajian, ceramah, seminar, buku, makalah, pertemuan, dan muktamar yang mencapai ribuan di penjuru dunia Islam, setia pada dakwah Islam, mengibarkan bendera Islam, dan menyebarkan ke berbagai penjuru untuk menyampaikan ajaran Islam, menuntun umat kepada kebaikan, keuntungan, kejayaaan, dan kemenangan. Di antara murid Al-Ghazali, ada yang menjadi ulama besar, di antaranya Prof. Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Syaikh Manna’ Qathan, Dr. Ahmad Assal, dan masih banyak lagi.

Semoga Allah SWT merahmati syaikh kita yang mulia, Muhammad Al-Ghazali, memberi balasan yang baik karena jasa-jasanya kepada kaum muslimin. Semoga Allah SWT mengumpulkan kita dan dia bersama para nabi, shiddiqin, dan para syuhada. Merekalah sebaik-baik teman.

Dicuplik dari: Mereka Yang Telah Pergi, Al-Mustasyar Abdullah Al-Aqil

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: